Cerita Anak Penyintas Tradisi Kawin Lari

 S (13) nampak malumalu saat bertemu dengan wartawan yang bersama dengan organisasi Plan Internasional Indonesia mengunjungi kediamannya di Sekotong Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin (10/7/2017).

Dia lebih sering menunduk dan merapikan rambutnya yang berponi ke kiri. S adalah salah satu anak yang diselamatkan (penyintas) dari tradisi kawin lari masyarakat Sasak.

S sempat dibawa lari oleh teman prianya, Zainudin (28) sekitar akhir bulan Juni 2017. Perkenalan mereka terbilang singkat, karena hanya satu pekan saat Zainudin baru kembali dari Malaysia.

S juga kerap diberikan hadiah. Pernah dikasih uang Rp 50.000 sekali, terus baju merah tapi saya gak suka, cerita S yang sedikit malu. Tak lama setelah itu mereka kawin lari.

Zainudin menjemput S untuk diajak kawin lari, atau yang biasa disebut merarik kodek. Saat menyadari S hilang, orangtuanya pun kebingungan. Bahkan ayah S sempat marahsebab S luput dari pengawasan dan dibawa lari oleh Zainudin.

Karena tak terima anaknya dibawa lari, ia segera melapor ke kepala dusun serta kepala desa setempat pada malam itu juga. Langkah cepat pun diambil sebelum ada proses besejati, di mana biasanya utusan dari pihak Zainudin memberitahukan ke kepala dusun S bahwa Zainudin telah melarikan S. Bila proses tersebut terjadi, maka sulit untuk dibatalkan karena sudah menjadi adat.

Kepala Desa Sekotong Timur, Ahmat segera menyusun rencana. Salah satu diantaranya adalah menggandeng Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) Sekotong Timur. Mereka segera berangkat menuju rumah Zainudin untuk melakukan belas atau pembatalan pernikahan.

Kami ingin menghentikan pernikahan karena usia anak masih belia. Selain itu juga ancaman pidana sudah menanti bagi siapa pun (keluarga dan orang yang menikahkan) bila proses (pernikahan usia anak) terjadi, kata Ahmat kepada Kompas.com di Sekotong Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Senin.

KAHFI DIRGA CAHYA Dusun Kambeng Timur, Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. S (13), anak penyintas kawin lari atau merarik kodek berasal dari dusun ini.Proses belas tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu ancaman yang dihadapi oleh pihak perempuan yang membelas adalah pertikaian. Biasanya pertikaian ini akan dilakukan oleh pihak pria karena menyangkut harga diri.

Itu juga yang dihadapi perwakilan Desa Sekotong Timur saat bertandang ke pihak keluarga Zainudin dalam rangka membelas pernikahannya dengan S. Setelah di lokasi, S yang tadinya dititipkan di rumah kepala dusun daerah Zainudin turut serta dihadirkan dalam proses belas.

Belas dilakukan dengan cara baikbaik, dengan memberikan pemahaman kepada Zainudin dan S bahwa pernikahan usia dini bisa memberikan dampak buruk, salah satunya terkait kesehatan. Namun, prosesnya saat itu cukup alot. Kesulitan yang dihadapi adalah pihak Zainudin menyerahkan keputusan menolak atau menerima kepada S.

Sementara saat itu S merengekrengek tak mau dipisahkan. Kami akhirnya tahu kalau sikap S itu karena sudah diajari oleh kepala dusun setempat, ujar Zainudin.

Ahmat yang kesal pun mengaku emosi. Dia bersuara lantang dan hendak melakukan tindakan di luar batas. Namun emosinya tertahan. Semua orang di tempat tersebut diam. Saat itu pula dia memanfaatkan untuk langsung membawa S dengan cara dibopong untuk dipisahkan dari Zainudin.

S meronta, namun tak kuasa. Akhirnya S bisa dibawa pulang. Saat itu saya cukup ngeri juga karena takut ada pertikaian, tapi ternyata gak ada, cerita Ahmat.

S dibawa ke rumah Ahmat untuk segera dipulihkan. Di sana, S masih syok. Ia pun masih menangisi perpisahan dengan Zainudin. Namun lambat laun hati S mulai tergerak dan melupakan Zainudin.

Peran anak muda

Keberhasilan membelas S dari Zainudin tak lepas dari peran KPAD Sekotong Timur yang merupakan proyek dari aliansi Yes I Do bentukan Plan Internasional Indonesia bersama Rutgers WPF Indonesia dan Aliansi Remaja Independen (ARI).

KPAD berisikan anakanak muda yang memiliki perhatian besar terhadap resiko pernikahan usia anakanak. Ketua KPAD Sekotong Timur Maeson mengatakan memiliki harapan besar untuk mengentaskan persoalan pernikahan usia anak di daerahnya.

Salah satu pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran adalah peristiwa kawin lari S. Setelah S berhasil dipisahkan, maka KPAD juga turut merangkul S untuk kembali ke lingkungan.

S tak lagi dianggap sebagai aib karena gagal menikah. Dia malah didorong untuk kembali ke sekolah. Kami bertanggungjawab atas keberlangsungan hidup S, salah satunya pendidikan, kata Maeson.

S kini terlihat lebih semringah. Dia mengaku mulai melupakan peristiwa tersebut dan ingin segera menggapai mimpinya. Saya ingin jadi pramugari, kata S yang menyunggingkan senyum.