Kematian Pasangan Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Akun Instagram Bayu (bukan nama sebenarnya) masih sering dihiasi foto bersama mendiang istrinya, Wika (juga bukan nama sebenarnya).

Momenmomen itu mulai dari penyelenggaraan resepsi pernikahan, menikmati bulan madu, hingga foto saat Bayu mengantarkan Wika ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Waktu bersama dalam ikatan pernikahan keduanya memang belum cukup lama. Sekitar 40 hari setelah resmi menjadi suamiistri, Wika meninggal karena kanker ovarium yang bahkan baru diketahuinya.

Bayu, yang berprofesi sebagai penerbang, berusaha terlihat tetap tegar, dengan berkalikali menuliskan kata ikhlas dalam tiap unggahan. Akan tetapi, raut sedih tak benarbenar bisa sembunyi. Kehilangan pasangan hidup akibat dipisahkan kematian memang memilukan.

Kesepian dan kesehatan

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine pada 2014 menyebutkan, kematian pasangan bisa meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dikutip dari LiveScience (24/2/14), peneliti yang berasal dari Universitas St. George Inggris itu menemukan bahwa perubahan fisiologis yang memicu serangan jantung dan stroke berhubungan dengan kesedihan mendalam yang dirasakan ketika pasangan meninggal.

Selain penyakit jantung dan stroke, kesepian juga membawa efek buruk lainnya bagi kesehatan. Misalnya, depresi, pola makan yang tidak sehat, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

Pada laman media sosial, Bayu berusaha tegar dan mengikhlaskan kepergian Wika. Beberapa kali, Ia menunjukkan bahwa hidupnya harus terus berjalan.

Di laman media sosial, Bayu kerap kali mengunggah aktivitas hariannya, mulai dari pesawat yang akan diterbangkannya, serunya wisata kuliner, hingga asyiknya berenang. Sebagai pria, ia menunjukkan ketabahan.

Dari sebuah survei yang dilakukan lembaga Independent Age yang bermarkas di Inggris, lelaki memang lebih legawa.

Disebutkan dalam survei itu bahwa wanitalah yang lebih sulit menghadapi kematian pasangannya sehingga lebih rentan mengalami kesepian, kesedihan, dan depresi.

Sebanyak 30 persen dari wanita yang disurvei mengatakan bahwa kesepian adalah hal yang paling sering mereka rasakan dan sulit diatasi setelah kehilangan orang yang mereka cintai. Adapun pria, hanya 17 persen yang berani mengakui hal tersebut.

Secara keseluruhan, wanita merasa kesepian selama delapan bulan setelah kehilangan pasangan mereka. Satu dari lima orang di antaranya bahkan masih merasa kesepian hingga tiga tahun kemudian.

Kematian itu pasti

Kematian memang merupakan takdir yang tak bisa dimungkiri. Tidak ada batasan berapa lama manusia akan hidup.

Meski kematian tak terelakkan, tapi risikorisiko pemicu kematian, misalnya penyakit kronis seperti yang diderita Wika, sebenarnya bisa dihindari.

Huffington Post Ilustrasi Kematian

Menerapkan pola hidup sehat adalah caranya. Tak terbantahkan, menjaga asupan makanan dan aktivitas fisik merupakan fondasi untuk memilih tubuh yang sehat.

Selain itu, deteksi dini terhadap serangan penyakit pun perlu dilakukan, terutama bagi kelompok usia muda yang sering kali merasa sehatsehat saja. Sebab, semakin cepat terdeteksi, semakin memungkinkan pula penyakit kronis tersebut diobati.

Dengan melakukan medical check up sejak dini, misalnya dengan program yang ditawarkan Prodia, yakni Check Up Young Generation, risiko penyakit mematikan bisa dihindari. Tingkat harapan hidup pun semakin tinggi.

Jika pola hidup sehat sudah dilakukan dan deteksi dini sudah dijalani, diharapkan tak akan ada lagi orangorang seperti Bayu yang patah hati terlalu dini, karena ditinggal pergi sang kekasih hati.