Kawin Cerai dan Militan Gila Seks, Ini Penyesalan Pengantin ISIS

Saida berasal dari Montpellier, Prancis Selatan. Ia salah satu istri tentara ISIS yang kabur ketika koalisi AS makin meringsek masuk ke kota.

Kebanyakan perempuan itu membayar penyelundup untuk membawa mereka keluar dari Raqqa, di mana pasukan Kurdi berhasil mencegat mereka keluar dari Suriah dan membawa mereka ke kamp pengungsi di Ain Issa, 50 km dari Raqqa yang dikelola oleh pasukan Syrian Democratic Forces (SDF) yang didukung koalisi Amerika Serikat.

“Aku cinta pada kehidupan, aku cinta bekerja, aku menyukai celana jeans, berdandan dan mencintai orangtuaku,” kata Saida menyesali nasibnya kini.

“Satusatunya yang kuinginkan adalah pulang, mengendarai mobilku,” lanjutnya.

Saida duduk bersama anak lakilakinya yang berusia 14 bulan. Wajah balita itu penuh dengan bentol gigitan serangga saat mereka harus menghabiskan waktu sebulan di alam, keluar dari Raqqa berjalan kaki.

Saida mengatakan, ia dan suaminya, militan ISIS bernama Yassine, harus membayar penyelundup US$ 6.000 untuk membawa mereka keluar dari kota. Yassine tewas dalam perjalanan, meninggalkannya bersama bayi mereka.

Saida, sama dengan para pengantin perempuan asing lainnya. Mereka terbius dengan “kekhalifahan Islam”, teracun janjijanji surga dengan hidup baru setelah menikahi lelaki yang taat beragama.

Namun, malangnya, realitas yang dihadapi mereka jauh dari janji.

Bertengkar dengan sesama pengantin, menghadapi militan ISIS yang gila seks, kawin cerai hingga enam kali.

Wanita Prancis itu mengingat ketika pertama kali tiba di Raqqa dan dengan cepat ia ditempatkan di asrama wanita, sebuah “madafa” dia menyebutnya, di mana pendatang baru menunggu untuk dipilih oleh militan ISIS.

Ia sangat terkejut dengan peraturan asrama.

“Saat wanita tiba di madafa ini, dia membuat semacam CV,” kata Saida.

“Mereka harus menuliskan usianya, namanya, seperti apa kepribadiannya, dan apa yang dia cari pada seorang pria. Dan pria juga mengunggah CV mereka untuk berkencan.”

“Jadi Anda bertemu dengan militan, kalian akan berbincang selama 1520 menit. Jika mereka berdua setuju maka mereka akan menikah. Prosesnya sangat cepat,” kata dia.

Militan ISIS Gila Seks

Mei, seorang guru bahasa Inggris Syria dari Homs, mengatakan bahwa dia tidak mencari cinta saat dia tiba di Raqqa. Dia mengklaim bahwa dia baru saja melewati kota dalam perjalanannya ke Turki, di mana dia memutuskan untuk pindah setelah suami pertamanya dibunuh oleh seorang penembak jitu.

Dia tinggal bersama anakanaknya di rumah seorang teman saat bertemu Bilal suaminya yang kedua, yang tinggal di sebelahnya.

Seperti lazimnya istri ISIS yang ditahan di penjara, Mei menggambarkan Bilal sebagai orang baik, dan tidak ingin berperang. Namun, apes, suaminya diminta ikut berperang setelah mereka menikah.

Tapi dia bergosip tentang wanita lain di Raqqa yang menurutnya tidak begitu beruntung.

“Mereka (wanita Eropa) melihat pria Eropa di sini yang jadi ISIS. Para pria itu terlihat jantan dengan senjata api dan mereka merasa dapat dilindungi. Seperti di film,” kata May.

“Banyak yang sangat kaget karena saat mereka menikah dengan pria, tiga sampai empat hari atau satu bulan kemudian, mereka bercerai.”

Dia menyebutkan seorang wanita yang sudah menikah dan bercerai setidaknya enam kali, sampai hakim di pengadilan perceraian khalifah mengancamnya dengan cambuk atau dipenjara. “Padahal, yang menceraikan dan menikahinya berkalikali ya para militan ISIS, bukan dia.”

May kini masih mencari suaminya, yang diduga dipenjarakan di kota perbatasan terdekat Kobani. Dia memulas inisial namanya di dinding penjara dengan cat biru, mengitari nama mereka di dalam bentuk hati. May mengaku tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika dia tidak pernah melihat Bilal lagi.

“Aku ingin seseorang membunuhku, karena aku tak bisa melakukannya sendiri, itu sama saja dengan bunuh diri,” katanya.