Dukungan Mahathir Mohamad ke Anwar Ibrahim Dipermasalahkan

Restu Mahathir Mohamad kepada mantan seterunya, Anwar Ibrahim berujung masalah. Kelompok garis keras lolayis Anwar, Otai Reformis terpecah akibat dukungan mantan PM Malaysia itu.

Mahathir diketahui telah merestui dan menyokong Anwar untuk jadi Perdana Menteri Malaysia. Dukungan tersebut mengejutkan seluruh Negeri Jiran.

Kelompok Otai Reformis pun mengalami perpecahan karena karena berapa tokoh penting tidak suka jika Anwar menerima dukungan Mahathir. Sekretaris kelompok tersebut Razak Ismail bahkan mengancam mengundurkan diri.

Razak menyatakan, dia punya alasan kuat mengapa ingin mundur. Ia mengaku begitu kecewa ketika tahu, keluarga Anwar menerima dukungan Mahathir.

Melihat kondisi tersebut, Kepala Otai Reformis Saari Sungib menggelar rapat mendadak demi membahas masalah itu.

Saari menyatakan, memang ada beberapa orang anggota loyalis Anwar yang kecewa dan menentang pemberian dukungan Mahathir. Tetapi, ada juga kelompok yang memberikan dukungan.

Namun, dari penglihatannya, beberapa loyalis Anwar berpikir pemberian dukungan dari Mahathir adalah bentuk pengkhianatan. Mereka menyatakan, baru bisa menerima dukungan tersebut jika Mahathir menyampaikan permintaan maaf terbuka.

Bila itu sudah dilakukan Mahathir, maka kelompok Otai Reformis yakin dukungan dari PM terlama Malaysia itu tulus.

“Saya berhadapan dengan spektrum emosi dari kelompok kami. Peran saya adalah untuk menerobos gap yang ada dan meyakinkan para anggota bahwa tujuan kita untuk memenangi pemilu” sebut Saari yang pernah dua kali dipenjara saat Mahathir memerintah, seperti dikutip dari The Star, Jumat (19/7/2017).

“Kisah tidak akan jadi indah bila Anwar jadi PM hanya karena dukungan Mahathir,” tambah dia.

Otai Reformis merupakan kelompok yang mempelopori gerakan reformasi di Malaysia. Mereka terbentuk tak lama setelah Anwar dipecat Mahathir.

Mereka menjadi salah satu kelompok yang aktif menentang Mahathir. Saat Mahathir menyampaikan pidato di awal tahun ini, kelompok tersebut menyoraki dan mencemooh mantan pemimpin itu.

Mahathir dan Anwar dulunya adalah pasangan PM dan Deputi PM. Mereka berdua sempat terlibat dalam perseteruan politik. Pertikaian itu berujung lengsernya Anwar dari jabatannya.

Mahathir menuduh Anwar melakukan perbuatan sodomi. Pemimpin Partai Pakatan Rakyat itu disebutkan berhubungan seksual dengan sesama jenis, yakni asistennya Saiful Bukhari Azlan, di Kondominium Desa Damansara di Bukit Damansara pada 26 Juni 2008.

Anwar membantah segala tuduhan sodomi tersebut. Dia menyebut, vonis ini merupakan upaya kriminalisasi koalisi partai berkuasa untuk menghentikannya dari dunia politik.

“Tidak ada bukti yang membuat saya harus mendekam di penjara. Saya tidak bersalah,” tegas Anwar, sebelum vonis MA, seperti dimuat BBC, Selasa (10/2/2015).

“Keputusan politik lah yang memenjarakan saya, saya mengerti sistem hukum. Saya pernah menjalani hukuman di penjara… tetapi kenapa ini seperti harga yang harus saya bayar.”