Mulai Dari Cerita Bunker, Perang Dunia II, dan Museum di Morotai

Pada 19411945 Asia Pasifik membara. Sebuah bab yang tidak bisa terpisah dari catatan kelam Perang Dunia II. Kala itu, Jepang berambisi membuat memperluas dengan membuat Asia Timur Raya dan dihadang oleh sekutu yang dinakhodai oleh Amerika Serikat.

Pertempuran sengit pun tidak terelakan. Kawasan Indonesia Timur menjadi saksi sejarah Perang Dunia II. Bahkan sampai saat ini masih terlihat buktibukti yang masih tertinggal di kawasan tersebut.

Sebut saja benteng pertahanan Jepang di Wasile. Di sana masih bisa dilihat senjata yang dipakai saat Perang Dunia II. Tak hanya itu, bunkerbunker tentara Jepang berbahan dasar beton masih bisa dikunjungi.

Selain di Wasile, ada juga pulau yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia II, yaitu Pulau Morotai. Bahkan sampai sekarang masih banyak bendabenda dan senjata yang tertinggal. Pelurupeluru dan senjata masih bisa ditemukan terkubur di tanah Pulau Morotai.

Pulau itu menjadi incaran setidaknya tiga negara yang terlibat dalam Perang Dunia II, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Hal itu dikarenakan pulau tersebut terbilang strategis untuk menjadi basis militer.

Perlu diketahui, Panglima perang Amerika Serikat saat itu, Douglas Mac Arthur menyulap Morotai menjadi pangkalan militer, dengan tujuh landasan pesawat terbang dan pesawat tempur yang lalu lalang.

Baku tembak kedua pihak menyuguhkan pemandangan mengerikan. Kapalkapal perang kedua belah pihak banyak yang tertembak dan tenggelam di perairan Morotai. Singkat cerita, Amerika Serikat menang dalam pertempuran itu.

Pemerhati sejarah dari Ternate, Azis Momanda mengatakan, lokasi Morotai yang strategis menjadikan Kepulauan Morotai pilihan tepat untuk membuat benteng pertahanan. Berbagai strategi dan taktik menguasai pulau ini menjadi penting.

Morotai identik dengan Perang Dunia (World War), terutama Perang Dunia ke2. Bangsa Jepang kali pertama menggunakan Morotai sebagai pangkalan militer wilayah kekuasaan Asia Pasifik. Pun demikian dengan pasukan sekutu dengan Amerikas Serikat sebagai komando, ujar Azis Momanda.
Masih di Pulau Morotai, kisah lain mengenai Perang Dunia II adalah tentara Jepang, Teruo Nakamura yang hidup dibelantara hutan Morotai sampai 30 tahun lamanya. Padahal, perang itu sudah berakhir.

Selain itu Morotai juga menjadi saksi sejarah ialah Indonesia yang kala memperjuangkan sekali merebut kembali Irian Jaya ke pangkuan Ibu Pertiwi, Morotai dijadikan pangkalan militer yang strategis.

Dengan cerita yang banyak Pulau Morotai dikenal pula dengan Pulau harta karun. Untuk menuju ke pulau itu pun diperlukan waktu yang panjang dengan terjalnya sepanjang jalan. Maka dari itu diperlukan kendaraan tangguh yang bisa membawa pengunjung untuk menelusuri harta karun Perang Dunia tersebut.

Selain itu, untuk membudidayakan peninggalan sejarah Perang Dunia II di Pulau Morotai, masyarakat setempat pun membuat museum yang bernama museum mini partikelir Perang Dunia II. Museum mini itu memajang semua artefak peninggalan Perang Dunia II.

Pemilik museum Muchlis Eso mengatakan peninggalan Perang Dunia II masih banyak tersebar di kawasan ini. Tinggalan seperti botol, dogtag, koin, hingga perlengkapan tempur masih ditemukan.

Hanya saja yang berkaitan dengan amunisi lawas tidak boleh sembarang dalam melakukan penggalian, imbuh Muchlis Eso.

Museum bersejarah itu pun diperbarui dengan central museum, Perang Dunia II dan Trikora rencananya bakal diresmikan dan kelola oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.