Penghormatan untuk 612 Tahun Laksamana Besar Cheng Ho

Satu persatu rombongan memasuki altar Klenteng Sam Po Kong kecuali kuda Cheng Ho yang berwarna hitam karena altar yang licin. Kuda tersebut oleh Bhe Koen dibawa lari bolakbalik sebanyak tiga kali untuk ritual.

Setelah itu ada dua Kio atau tandu arca Cheng Ho dan pengawalnya. Dua Kio tersebut juga menjalani ritual dibawa lari bolakbalik tiga kali sebelum memasuki altar Klenteng. Setelah itu Kio di letakkan di altar dan warga mulai berdoa di sekitarnya.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, arakarakan Sam Poo tahun 2017 ini dilangsungkan lebih sederhana. Meskipun sederhana namun kemeriahan tetap terjaga. Spirit dan roh keberagaman budaya sangat terjaga.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyempatkan diri ikut memanggul kio (tandu). Ia larut dalam kegembiraan warga Tionghoa. Kepada Liputan6.com Hendi mengatakan bahwa momentum arakarakan Sam Poo sesungguhnya merupakan penegasan bahwa Semarang akan menjadi benteng Pancasila.

“Kita lihat, semua warga, Tionghoa, Jawa, Arab, Khoja (India) semua bahumembahu. Meski Cheng Hoo seorang Muslim, namun saudara kita umat Tri Dharma, Katholik, Kristen juga ikut memperingatinya dengan cara mereka sendirisendiri,” kata Hendi, Sabtu (22/7/2017).

Menurut Mulyadi Setiakusuma, salah satu pengurus kelenteng, pihaknya hanya meneruskan tradisi peringatan kedatangan Cheng Ho sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Hal itu untuk menghormatinya sebagai sosok berpengaruh di Jawa Tengah khususnya Semarang.

“Dalam rangka kedatangan Laksamana Cheng Ho kita lakukan ritual sejak ratusan tahun. Pelaksanaannya berdasarkan penanggalan kalender Tionghoa. Ini bentuk ritual menunjukkan besarnya Laksamana Cheng Ho bagi masyarakat Semarang, Jawa Tengah,” kata Mulyadi.