Cara Anak Muda Melawan Radikalisme di Dunia Maya

Kikan, eks vokalis grup band Cokelat. mengaku kerap menerima teror dan dirisak di media sosial dengan tuduhan kafir oleh warganet. Itu saat warganet tahu Kikan dipilih sebagai juru kampanye Duta Damai BNPT untuk melawan radikalisme di kalangan pesohor.

“Saya abaikan saja, percuma ditanggapi malah makan hati. Tapi saya yakin apa yang saya perjuangkan adalah benar,” ucap Kikan saat menghadiri pengukuhan Duta Damai Dunia Maya di Malang.

Sejak peristiwa yang dialami oleh Kikan itu, banyak selebritas yang berpikir ulang jika diiajak mendukung BNPT. Secara mental, mereka belum siap berhadapan dengan haters yang menyerang aktivitas melawan radikalisme itu. Meski demikian, banyak kalangan seniman yang mau dijadikan fasilitator pelatihan duta perdamaian.

“Saya imbau pada seluruh anak muda tetap melawan segala bentuk radikalisme dan terorisme di dunia maya,” tegas Kikan.

Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayor Jenderal TNI Abdul Rahman Kadir menyebut dunia maya menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan gerakan radikal dan terorisme untuk merekrut calon anggota.

Kadir mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia yang menyebut pengguna internet ada sebanyak 132 juta orang dari total lebih dari 250 juta penduduk Indonesia. Dunia maya menjadi alat efektif bagi kelompok radikal dan pelaku terorisme untuk indoktrinasi dan propaganda.

“Anak muda jadi target mereka di dunia maya untuk direkrut sebagai simpatisan. Duta Damai ini diharapkan menangkal itu dengan bekal pengetahuannya, kata Kadir.

Ia menambahkan, kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) telah bergeser mendekat ke kawasan Asia Tenggara. Serangan di Kota Marawi, Filipina menjadi buktinya. Tak menutup kemungkinan kelompok itu terus bergerak dan masuk wilayah Indonesia.

“Duta Damai kami harapkan menyampaikan pesan perdamaian dengan bahasa yang tentu saja mudah dipahami oleh sesama anak muda,” ucap Kadir.

Duta Damai Dunia Maya sendiri telah dibentuk oleh BNPT di Medan, Jakarta, Yogyakarta dan Makassar pada 2016. Pada tahun ini, ditargetkan dibentuk di tujuh kota lainnya dan sudah terlaksana di Malang, Bandung, dan Semarang. Di tiap kota itu ada 60 orang yang terpilih melalui proses seleksi.

Mereka berasal dari aktivitas yang beragam. Mulai dari pegiat media sosial, blogger, animator dan sebagainya. Sedangkan untuk memantau situssitus radikal, BNPT sudah bekerja sama dengan Kementerian Kominfo, kepolisian, dan aparat keamanan lainnya.