Cerita Unik Calon Haji Asal Sumsel Ingin Wafat di Tanah Suci

Di balik tingginya antusias para calon haji asal Sumatera Selatan (Sumsel). yang akan berangkat haji, ada saja cerita unik dari mereka. Banyak dari mereka yang berkeinginan wafat di Kota Mekkah.

Menurut Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumsel, Alfajri Zabidi, pola pemikiran tersebut sempat menjadi perhatian serius. Alhasil, pihaknya terus memberikan sosialisasi pendidikan tentang kesehatan.

“Semakin dekat (keberangkatan), makin banyak yang sakit, makin cepat mereka ingin berangkat. Mereka memilih lebih baik meninggal di Mekkah,” ucap dia kepada Liputan6.com, saat membakar buku nikah di halaman PSBB MAN 3, Palembang, Kamis, 27 Juli 2017.

Karena itu, imbuh dia, pihaknya akan memberikan edukasi kesehatan mengenai penyakit yang umumnya diderita calon haji, termasuk penanganannya.

Alfajri menjelaskan, di antara calon jemaah haji yang siap berangkat, ada satu orang yang dinyatakan tidak lolos kesehatan karena sedang hamil. Namun, tak jarang pihaknya tetap memberangkatkan calon haji yang sedang mengidap penyakit tertentu.

Salah satunya calon haji yang mengalami kondisi cacat tubuh dan tidak bisa berdiri, namun tetap semangat untuk berangkat ke Tanah Suci. Bahkan, jika calon haji harus cuci darah karena penyakit tertentu, masih bisa diberangkatkan.

“Yang paling tua tahun ini ada usianya 89 tahun. Dia merasa tidak tua dan masih kuat. Kalau yang muda usianya 20 tahun dari Kota Palembang,” ujarnya.

Adapun kelompok terbang atau kloter pertama akan berangkat pada 4 Agustus 2017. Dari total 7.035 calon haji, baru 5.000 visa yang sudah diterbitkan. Namun, pihaknya menjamin dalam waktu dekat seluruh visa calon jemaah haji akan selesai.

Seluruh keberangkatan calon jemaah haji asal Sumsel, dijadwalkan pada malam hari hingga dini hari. Untuk itu, menurut Alfajri, pihaknya sudah berkoordinasi dengan operator Asrama Haji dan PT PLN.

“Operator siapkan genset dan minta bantuan Gubernur Sumsel, jika terjadi listrik padam,” katanya.

Sementara itu, pembakaran buku nikah yang dilakukan tersebut untuk menghindari adanya penyalahgunaan dokumen lama. Sebanyak 223.734 pasang dan 1.352 blangko DN dibakar di halaman SMAN 3 Palembang.

Buku nikah edisi lama ini merupakan terbitan saat Menteri Agama (Menag) Surya Dharma Ali menjabat. Namun sekarang, buku nikah yang ditandatangani Menag Lukman Hakim yang berlaku.

“Khawatir terjadi penyalahgunaan, ada yang hilang, ada yang dicuri. Jadi kita musnahkan seluruhnya dari 17 kabupaten/kota,” sebut dia.

Buku nikah yang lama dengan yang baru, lanjut Alfajri, tidak ada perbedaan yang mencolok. Hanya nomor registrasi dan tanda tangan Menag baru saja yang membedakan.