Fandina Alami Bullying karena Sumbing

Tak mudah bagi Fandina memasuki kehidupan sekolah. Ia harus mengalami bullying. Temanteman di sekolah sering mengolokolok dan mengataingatai soal kondisi bibir sumbingnya.

“Saya dari kecil sudah dibully dan suka dikatakatain. Itu saya alami dari sekolah. Bahkan sampai sekarang juga. Tapi kalau sekarang sih agak beda. Enggak terkesan dibully, tapi saya merhatiin tatapan mata orang kalau lihat saya. Mereka sepertinya mau ketawa melihat kondisi saya,” tambah Fandina.

Bullying yang dialaminya tidak membuat Fandina depresi, marah atau kesal. Ia mengaku, semakin hari malah tidak memikirkan bullying dan cemooh orang lain.

“Ya, akhirnya saya lamalama biasa aja. Saya jalani harihari seperti biasa. Toh orang lain kalau ngeliat sumbing pun bawaannya pengin ngatain orang itu kan. Saya menerimanya saja,” ujar Fandina.

Pemulihan dan operasi bibir dan lelangit sumbing sangat didukung keluarga, terutama sang ibu. Di mata Fandina, ibunya sangat memerhatikan dirinya.

“Mama itu orangnya paling getol (rajin). Apalagi selalu nanya soal operasi, Kapan operasi lagi? Padahal, saya baru saja dioperasi. Mama pengin saya cepat selesai operasinya,” ucapnya sambil tersenyum.