Tempat Tinggi Jadi Lokasi Termudah Bunuh Diri

Ada dua kasus terkait bunuh diri yang tercatat dalam beberapa hari ini di Kota Bandung, Jawa Barat. Keduanya memiliki kesamaan, pelaku melakukannya dari lokasi ketinggian.

Kasus pertama terjadi pada Senin, 24 Juli 2017 di apartemen Gateaway, Cicadas, dua perempuan bersaudara loncat dari lantai 5 sehingga mengakibatkan nyawa keduanya melayang. Kasus kedua melibatkan seorang pria yang meloncat dari jembatan flyover Pasopati, Kamis (27/7/2017) siang. Pria yang melakukan percobaan bunuh diri tersebut mengembuskan napas terakhir hari ini setelah sempat dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung.

Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kejiwaan Indonesia Daerah Jawa Barat Tedy Hidayat, lokasi ketinggian merupakan akses termudah bagi seseorang yang dilanda depresi berat dan pasien psikotik untuk melakukan hal tersebut.

“Bunuh diri paling banyak dilakukan adalah dengan gantung diri atau dengan minum cairan beracun. Tapi sebenarnya cara bunuh diri itu lebih ditentukan oleh dengan mudahnya akses untuk mendukung hal tersebut,” kata Tedy Hidayat kepada Liputan6.com, Kamis, 27 Juli 2017.

Tedy Hidayat mengatakan terjun dari ketinggian merupakan pilihan mudah pelaku percobaan bunuh diri. Apalagi kata Tedy yang tinggal di apartemen akan lebih mudah dilakukan saat memiliki ide bunuh diri.

Tedy menjelaskan, agar usaha bunuh diri itu tidak terlaksana, seseorang yang memiliki risiko gangguan kejiwaan sebaiknya tidak tinggal di tempat yang tinggi.

Dia menambahkan dari 40 persen pasien depresi, mempunyai ide bunuh diri dan 15 persen diantaranya berhasil melakukannya.

Berdasarkan data yang dimiliki perkumpulannya, di Indonesia setiap tiga menit, satu orang bunuh diri. Sehingga dalam satu hari terdapat 5.500 orang yang melakukan hal serupa.

“Dalam setahun angkanya mencapai 1,5 juta orang,” jelas Tedy.