AS Kirim Roket dan Pesawat Intai ke Filipina, Gempur Marawi?

Amerika Serikat dikabarkan memberikan dua pesawat intai dan sejumlah amunisi roket kepada Filipina. Menurut laporan pemerintah kedua negara, serah terima itu dilakukan pekan lalu Juli 2017.

Menurut laporan, Washington, DC memberikan Angkatan Udara Filipina (PAF) dua pesawat intai jenis Cessna208B Grand Caravan Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR), 1.040 mesin roket ukuran 2,75 inchi, dan 992 proyektil roket ukuran 2,75 inchi. Demikian seperti yang dilansir dari Asian Correspondent, Senin (31/7/2017).

Serah terima pesawat itu diwakili oleh Duta Besar AS untuk Filipina Sung Y. Kim dan deputi komandan US Pacific Command Letnan Jenderal Bryan Fenton pada 27 Juli 2017. Penyerahan dilakukan di markas pusat PAF di Villamor Air Base, Manila.

Kedua pesawat dengan total harga senilai US$ 33 juta itu didonasikan oleh AS melalui US National Defense Authorization Act Building Partnership Capacity Program.

“Donasi pesawat ini menunjukkan kuatnya relasi antara AS dengan angkatan bersenjata Filipina. Sebagai sekutu, sangat penting bagi militer kedua negara untuk saling membantu di tengah situasi krisis,” jelas Dubes Sung Kim.

Dua pesawat dan ribuan persenjataan roket itu diterima oleh Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) Jenderal Eduardo Ano, dan Komandan PAF Letjen Edgar Fallorina.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah AS. Bantuan militer itu selaras dengan agenda keamanan dan keselamatan negara. Saya yakin bahwa pesawat itu mampu meningkatkan kapabilitas kesiapan operasi PAF,” kata Menhan Lorenzana.

“Pesawat itu juga dapat digunakan untuk berbagai operasi militer darat, laut, dan udara, misi bantuan humanitarian, dan tanggap bencana. Tak hanya militer, pesawat itu juga dapat digunakan oleh badan pemerintah lain, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, serta Biro Perikanan dan Sumber Daya Laut, untuk memantau area tambang, hutan, dan kawasan maritim,” tambahnya.

Operator utama dua pesawat itu adalah Air Intelligence and Security Group ke300 PAF yang bermarkas di Edwin Andrews Air Base, Kota Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan. Pesawat itu dilaporkan mampu beroperasi hingga 1.689 km nautikal, dengan daya tahan operasi selama 5,5 jam, dan mampu terbang setinggi 40.233 km.

Dilengkapi dengan sensor, kamera dan peralatan komunikasi yang canggih, burung besi itu diharapkan dapat meningkatkan kemampuan AFP secara signifikan untuk menemukan kelompok teroris yang beroperasi di daerah bergolak Filipina seperti Mindanao, lokasi bersarangnya kelompok militan Abu Sayyaf.

Mindanao juga merupakan rumah bagi Kota Marawi, lokasi pertempuran yang sedang berlangsung antara kelompok pembreontak Maute yang terinspirasi oleh ISIS dengan aparat keamanan setempat. Kini, pertempuran itu hampir memasuki bulan ketiga sejak meletus pada 23 Mei lalu.

Sementara itu, ribuan persenjataan roket diserahkan oleh Kedubes AS ke AFP di Clark Air Base, Provinsi Pampanga pada Sabtu 29 Juli lalu. Donasi itu dilakukan melalui mekanisme Mutual Logistics Support Agreement (MLSA).

“Amunisi dan persenjataan itu akan meningkatkan kemampuan kontraterorisme AFP, dan secara langsung mendukung anggota AFP yang secara aktif terlibat dalam operasi kontraterorisme di Filipina selatan, termasuk Marawi,” jelas rilis resmi dari Kedubes AS di Filipina.

Pemberian pesawat dan persenjataan terbaru dari AS kepada Filipina itu juga terjadi beberapa bulan setelah upaya Manila yang berusaha untuk menggeser kebijakan luar negerinya guna lebih berorientasi pada Rusia dan China. Pada Juni lalu, Tiongkok menghibahkan persenjataan senilai US$ 7,3 juta kepada negara yang dipimpin oleh Presiden Rodrigo Duterte, sebagai bukti kedekatan kedua negara yang makin dekat.

Sementara dalam lima tahun terakhir, Washington, DC telah mengalokasikan lebih dari US$ 297 juta dana hibah untuk memberikan AFP peralatan dan pelatihan militer mumpuni.