Industri Manufaktur Kecil Terpuruk, Pemerintah Harus Turun Tangan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil di kuartal II2017 sebesar 2,5 persen. Realisasi ini anjlok dari capaian pertumbuhan di kuartal I2017 sebesar 6,63 persen dan lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu sebesar 6,56 persen.

“Ini agak tidak biasa ya. Biasanya industri mikro dan kecil lebih tinggi di kuartal I,” kata Kepala BPS, Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk di kantornya, Jakarta, Selasa (1/8/2017).

Menurut Kecuk, industri mikro dan kecil kerap menemukan kendala dalam menjalani usaha. Tak heran apabila industri pada skala tersebut gampang untuk tutut alias gulung tikar.

“Industri mikro dan kecil buka dan tutupnya gampang sekali. Namanya industri rumah tangga, di bawah 19 orang pekerja. Buka, lalu tutup, dan susah memonitornya,” terangnya.

Kendala utama di industri mikro dan kecil, menurut Suhariyanto, pertama masalah permodalan. Pemerintah harus lebih berpihak pada industri tersebut dengan memberikan bantuan supaya usaha lebih tumbuh dan berkembang.

“Kendala lain dari sisi pemasaran. Banyak industri mikro dan kecil yang bisa produksi, tapi pemasaran terbatas. Saya pikir, pemerintah perlu membantu karena perlu ada keberpihakan pemerintah ke sana,” tutur Suhariyanto.

Adapun jenisjenis industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami penurunan produksi kuartal II2017 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meliputi:

Industri barang galian bukan logam turun 3,61 persen
Industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer turun 6,68 persen
Industri peralatan listrik turun 7,21 persen
Industri jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan turun 7,96 persen
Industri pengolahan tembakau anjlok 14,32 persen.

Sementara industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami kenaikan tertinggi kuartal II2017 dibandingkan kuartal II2016 adalah:

Industri komputer, barang elektronik dan optik tumbuh 35,43 persen
Industri kertas, dan barang dari kertas tumbuh 23,37 persen
Industri mesin dan perlengkapan YTDL 22,26 persen
Industri makanan 5,82 persen
Industri pakaian tumbuh 4,10 persen.

Sebanyak delapan provinsi di Indonesia mencatatkan penurunan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil, yakni Kalimantan Timur kontraksi 12,89 persen, Nusa Tenggara Barat turun 12,72 persen, Sulawesi Selatan turun 11,23 persen.

Juga ada Papua Barat turun 5,31 persen, Jawa Tengah dan Jawa Barat masingmasing turun 4,27 persen dan 3,38 persen, serta Sumatera Barat dan Kalimantan Barat masingmasing turun 1,66 persen dan 0,19 persen.

Sedangkan delapan provinsi yang mendulang pertumbuhan produksi industri mikro dan kecil secara positif di kuartal II (year on year), antara lain Kalimantan Utara 34,51 persen, Nusa Tenggara Timur 29,89 persen, Papua 25,68 persen, Banten 24,70 persen, Aceh 20,20 persen, Kalimantan Selatan 19,84 persen, DKI Jakarta 18,48 persen, dan Sulawesi Barat 16,92 persen.