4 Fakta Kasus Cinta Ditolak Order Fiktif Gojek Bertindak

Polres Jakarta Timur resmi menetapkan Sugiharti atau Arti sebagai tersangka kasus order fiktif Gojek dan pencemaran nama baik terhadap Jajat serta Ahmad Maulana alias Dafi.

Dalam pemeriksaan, Arti juga mengaku berbuat itu atas dorongan rasa dendam lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan.

“Arti mengaku, motifnya sakit hati dia karena cintanya ditolak. Dendamlah dia ini ceritanya. Mengakui perbuatannya,” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta pada 1 Agustus 2017.

Arti memang mengenal Julianto maupun Dafi. Keduanya sempat memiliki hubungan spesial dengan Arti. Tapi, hubungan Arti dengan Jajat dan Dafi kandas di tengah jalan.

Arti mengatakan, ia lebih dulu mengenal Jajat melalui media sosial Facebook pada 26 Desember 2016. Dari perkenalan itu, Julianto sempat menyatakan keseriusan terhadap Arti. Bahkan, Julianto sudah meminta izin bertemu orangtua Arti guna melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

“Dia sempat minta izin ketemu orangtua Arti pengin serius sama Arti untuk menikah,” kata Arti.

Hanya saja, keinginan itu kandas. Julianto tibatiba saja menghilang. Aplikasi pesan singkat Whatsapp dari Arti juga diblokir Julianto.

Sementara, Arti mengenal Dafi awal Ramadan Juni lalu. Dafi bahkan sudah datang ke rumah Arti dan meminta izin untuk menikahinya.

Tak berapa lama kenal, Dafi meminjam uang Arti Rp 700 ribu. Dafi beralasan, uang itu akan digunakan untuk membayar utang sang ibu. Arti kemudian mengirim uang Rp 200 ribu ke Dafi.

“Setelah aku transfer, WA, Facebook aku diblokir dan tinggalin aku, tidak ada kata putus. Malahan aku dijahatin, dibully banyak orang medsos,” ucap dia.

Dafi mengaku bertemu Arti di media sosial Facebook. Namun, saat bertemu foto dengan aslinya berbeda.

“(Pacaran) cuma dua mingguan. Kenal di Facebook, ketemu dekat rumahnya. Saya samperin, ternyata lain sama fotonya,” kata Dafi saat ditemui di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 Juli 2017 malam.

Meski wajah Arti berbeda dengan foto di Facebook, Dafi mencoba menjalin hubungan dengan perempuan itu. Ia bahkan pernah bertemu keluarga Arti.

“Pernah ke rumahnya dua minggu sebelum puasa. Biasa saja, silaturahmi kedua orangtua,” tutur dia.

Berjalan dua minggu, Dafi mengatakan Arti pernah memintanya untuk menikahi dia. Namun, Dafi belum juga menemukan rasa suka terhadap wanita itu dan memutuskan hubungan dengan Arti.

Sikap petugas PPSU yang memutuskan hubungan membuat Arti tidak suka. Apalagi Dafi pernah meminjam uang Rp 200 ribu untuk membeli kuota internet.

Dari sinilah, ujar dia, Arti mulai menerornya, meski belakangan utang itu telah dibayar. “Saya sudah bayar, tapi masih diteror. Datang makanan. Dia WA (WhatsApp),” papar Dafi.

Teror tersebut berlangsung saat bulan Ramadan Juni lalu. Pada teror pertama, Ahmad dikirimi martabak seharga Rp 300 ribu. Namun tak dibayarkan di tempat kerjanya.

Kemudian berlanjut nasi goreng seharga Rp 350 ribu yang juga tak dibayarkannya. “Yang ketiga saya bayar seharga Rp 500 ribu, lima boks (kotak),” tutur Dafi.

Dia merasa yakin teror itu dilakukan oleh Arti. Sebab saat hubungan asmaranya diputus, Dafi mendapat ancaman dari Arti.

“Dari awal mengancam. Kalau putus, kamu dapat masalah. Saya teror dari pihak online. Saya enggak tahu online apaan, dong. Ternyata Gojek, Grab Bike, sama yang mobil Gocar dipesenin itu juga, semuanya. Terus makanan dibawa ke rumah saya, sampai orangtua saya marahmarah,” cerita dia.