Crane Proyek LRT Palembang Ambles

Kecelakaan crane proyek LRT (Light Rail Transit) Palembang di samping flyover atau jembatan layang Jakabaring Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) diklaim PT Waskita Karya Persero karena kontur tanah yang rusak.

Meskipun sudah dipasang pelat baja sebagai landasan dua crane, kontur tanah tetap ambles hingga kedalaman sekitar 50 centimeter.

Menurut Masyudi Kepala Proyek (Kapro) Utama PT Waskita Karya Persero, sebelum steel box girder diangkat menggunakan dua crane berbobot 70 ton dan 80 ton, pihaknya sudah mengadakan tes lapangan di hari yang sama.

Saat trial pengangkatan girder LRT, kontur tanah di Jalan Gubernur H Bastari, RT 002/05, Kelurahan Silaberanti, Palembang, ini tidak menunjukkan adanya kerusakan.

Sebelumnya mereka juga sudah mengoperasikan crane di jarak 30 meter dari lokasi amblesnya tanah, namun pengangkatan girder tetap berjalan.

“Kita tidak bisa memprediksi kekuatan tanah seperti apa. Sebelumnya, sudah dipasang pelat baja ketebalan dua cm untuk dudukan crane. Tapi posisi crane goyang dan kolaps, landainya lebih dari 50 cm,” ucap dia saat menggelar jumpa pers di Kantor Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi (Dishubkominfo) Sumsel, Selasa, 1 Agustus 2017.

Pengoperasian crane proyek LRT Sumsel ini, lanjut dia, harus dalam kondisi landasan yang datar. Bahkan jika kemiringan landasan hanya satu cm, akan ada hentakan dari crane dan menghalangi pengoperasian alat berat LRT tersebut.

Girder yang menimpa rumah dan ruko tersebut adalah rangkaian terakhir bangunan LRT di Zona 5. Pengangkatan girder sepanjang 30 meter dan lebar 2,5 meter itu awalnya sudah diperhitungkan.

PT Waskita Karya Persero memastikan bahwa operator crane sudah mengantongi Surat Izin Operator (SIO) dan surat kelayakan alat crane yang tersertifikasi. Kondisi crane juga dipastikan aman dan tidak ada sambungan di boom crane.

“Kita usahakan sampai malam nanti clear (TKP) supaya tidak mengganggu lalu lintas. Satu minggu ini harus selesai semua agar Selasa depan bisa jalan lagi. (Jalan) akan ada perbaikan,” ujar dia.

Untuk kerugian akibat kecelakaan crane proyek LRT masih dalam proses perhitungan, baik materiel maupun imateriel. Mereka juga akan menghitung keterlambatan pengerjaan yang akan dikejar.