Senjakala Metro Mini di Jakarta

Metro Mini ada jauh sebelum Encu mengemudikannya. Diperkenalkan pada 1962 oleh Gubernur DKI Jakarta, Soemarno, semula Metro Mini diplot sebagai sarana transportasi peserta Ganefo. Baru pada 1976, atas instruksi Gubernur Ali Sadikin, dibentuk PT Metro Mini.

Meski kini dipandang sebelah mata, Metro Mini pernah menjadi idola warga Jakarta. Puncak kejayaannya terjadi pada era 1980an hingga 1990an. Kala itu, diperkirakan jumlah armadanya mencapai 6.000 unit dan melayani 60 trayek.

Namun, pada 1995 terjadi konflik internal di tubuh PT Metro Mini. Konflik tersebut memicu dualisme kepemimpinan. Puncaknya, pada 2013, kantor pusat PT Metro Mini dirusak sejumlah orang.

Pertengahan Juli lalu, Transjakarta meresmikan moda transportasi bernama Minitrans. PT Transjakarta bekerja sama dengan BNI Syariah untuk membeli 300 unit bus ukuran sedang.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, bus ukuran sedang dibutuhkan untuk jalan kecil yang sulit dilalui bus Transjakarta umumnya. “Bisa dijadikan feeder dan sekaligus merupakan proses revitalisasi angkutan,” ujar dia di Balai Kota DKI Jakarta

Saat ini, menurut Djarot, terdapat sekitar 1.500 bus sedang, baik Kopaja maupun Metro Mini di Jakarta. Jumlah Kopaja yang sudah direvitalisasi sekitar 328 unit, sedangkan jumlah Metro Mini yang direvitalisasi 300 unit.

Ia menargetkan, bus Kopaja dan Metro Mini lama menghilang pada 2018 mendatang. “Saya berharap kayak begini paling tidak 2018 sudah habis, hilang dengan sendirinya. Enggak usah diajak bertengkar, biar saja, pasti akan kalah bersaing,” ujar Djarot.

Senjakala di depan mata. Sejak konflik meretakkan perusahaan, jumlah armada menurun. Dari 6.000 unit, diperkirakan menjadi lebih kurang 3.000 unit pada 2013.

Pemasukan juga seret. Dulu, dalam sehari, setoran yang harus dibayarkan Rp 600 ribu. “Dulu lagi ramai, setoran sampai Rp 600 ribu. Sekarang minta Rp 400 ribu, tapi kenyataannya Rp 350 ribu atau Rp 370 ribu, ungkap Encu yang telah 26 tahun narik Metro Mini.

Beberapa jalur mati karena sangat sepi penumpang. Di antaranya, jalur 85 KalideresLebak Bulus, jalur 79 Blok MLebak Bulus, dan Jalur 611 Lebak BulusBlok M.

Alhasil, sebagian rekan kerja Encu beralih profesi. Beberapa di antaranya ada yang berdagang kecilkecilan, menjadi kuli bangunan, atau menjajal peruntungan sebagai pengemudi ojek online. Ada juga yang pulang kampung, meninggalkan gemerlap Jakarta.