Fungsi Blangkon Calon Haji Asal Gunungkidul Selama di Tanah Suci

Jemaah calon haji asal Gunungkidul memiliki cara unik untuk menunjukkan identitas sesama anggota kelompoknya. Mereka mengenakan blangkon sebagai penutup kepala saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Pemandangan berbeda itu terlihat ketika jemaah haji kelompok 1 dari kloter 23 asal Gunungkidul turun dari bus di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Kamis, 3 Agustus 2017.

Bukannya menggunakan peci, mereka mengenakan penutup kepala blangkon. Blangkon merupakan penutup kepala dalam pakaian adat tradisional Jawa.

Blangkon yang dikenakan pun bergaya Yogyakarta sesuai dengan asal jemaah haji. Blangkon gaya Yogyakarta ditandai adanya mondol di bagian belakang. Keberadaan mondol itu berbeda dengan blangkon gaya Solo yang tidak memiliki mondol.

Blangkon yang dikenakan calon jemaah haji asal Gunungkidul itu pun seragam dengan warna hitam dengan kombinasi garis putih menyerupai lurik di bagian atas. Karena difungsikan sebagai seragam penutup kepala, di bagian atasnya pun ditempeli kertas yang berisikan data jemaah seperti nama, asal, kloter dan nomor handphone.

Meski blangkon menjadi identitas bagi sejumlah jemaah haji asal Gunungkidul, mereka juga tetap membawa peci yang disimpan dalam tas. Peci tersebut dipakai di selasela ketika para jemaah haji tak memakai blangkon.

“Blangkon dipakai ketika berada dalam kerumunan orang banyak. Jadi akan mudah untuk mengenalinya jika ada anggota yang terpisah saat melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci,” kata Ahmad Haris, Ketua Kelompok 1 Jemah Haji Kloter 23 di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Kamis, 3 Agustus 2017.

Ide mengenakan atribut blangkon itu, dijelaskan dia, tidak begitu saja muncul. Mereka berulang kali berembug dengan jemaah haji lainnya untuk mencari identitas yang tepat guna dipakai di Tanah Suci nanti. Setelah muncul beberapa ide, diputuskan memakai blangkon sesuai dengan pakaian adat tradisional yang berlaku di Yogyakarta.

“Dalam satu rombongan ini dibutuhkan identitas yang kuat supaya memudahkan untuk saling mengenalnya, diputuskanlah memakai blangkon,” katanya.

Haris mengatakan para jemaah haji mencoba ikut melestarikan keberadaan blangkon yang merupakan bagian dari pakaian adat tradisional masyarakat Yogyakarta. Sebanyak 135 jemaah haji yang tergabung dalam kelompok 1, khusus untuk jemaah haji lakilaki ,mengenakan blangkon.

“Blangkon adalah kita. Ini bagian dari nguriuri budaya kita. Apalagi, blangkon jika dipakai enak dan nyaman,” ujarnya.

Blangkon tersebut dipesan secara khusus kepada abdi dalem Keraton Yogyakarta yang juga merupakan perajin blangkon. Blangkon yang dipesannya pun warnanya seragam didominasi warna hitam dengan kombinasi warna putih.

Tak hanya itu, di dalam lipatan blangkon itu juga memiliki simbolsimbol. “Di samping kiri dan kanan blangkon itu terdapat 17 lipatan yang menunjuk kepada 17 rakaat salat wajib dalam satu hari,” jelas dia.

Sementara itu, Ketua Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIH) Kloter 23 asal Gunungkidul, Muh Kamsun mengatakan ide mengenakan seragam penutup kepala blangkon murni dari para jemaah sendiri. “Seragam blangkon itu bukan dari TPIH tetapi ide dari jemaah,” kata dia.

Ia pun menyambut baik penutup kepala khas Yogyakarta itu dikenakan sejumlah jemaah haji asal Gunungkidul. Memakai blangkon berarti simbol cinta dengan budaya yang digunakan dalam melaksanakan ibadah haji.

“Budaya dengan keagamaan bisa memperindah aktivitas dan kehidupan dalam beribadah. Ini cukup menarik dan menunjukkan Islam rahmatan lil alamin,” ujarnya bangga.