Pemimpin Klu Klux Klan Ancam Bakar 11 Juta Imigran AS

Raleigh Seorang jurnalis perempuan keturunan AfrikaLatin mengkhawatirkan keselamatannya setelah mewawancara pemimpin Klu Klux Klan (KKK), kelompok rasis ekstrem Amerika Serikat.

Jurnalis Univision itu, Ilia Calderón, mengalami kejadian mengejutkan saat ia setuju untuk mengunjungi pemimpin KKK Chris Barker di sebuah bangunan di North Carolina.

Di sana, ia melihat Barker memimpin pertemuan KKK sebelum wawancara dilakukan. Para peserta pertemuan itu memakai jubah bertudung dan menari berkeliling dengan membawa obor.

Saat diwawancara, Barker dengan segara bertanya kepada Calderón mengapa ia tak kembali ke negara asalnya Calderón merupakan imigran.

“Kami tak memiliki apa pun di Amerika; kamu tetap saja membanjiri negara ini,” ujar Barker. “Namun, kami akan mengusirmu dari sini.”

Barker sempat berhenti sejenak dan mengoreksi pernyataannya. “Tidak, kami akan membakar kalian.”

Dikutip dari Independent, Jumat (18/8/2017), ketika Calderón bertanya kepada Barker bagaimana caranya melenyapkan 11 juta imigran, ia menjawab dengan pernyataan mencengangkan.

“Kami telah membunuh 6 juta Yahudi. Sebelas juta bukan apaapa,” jawab Barker.

Dalam wawancara tersebut, Barker mengklaim bahwa Klu Klux Klan adalah kelompok Kristiani dan bukan grup penebar kebencian. Ia juga tak menganggap dirinya rasis.

Usai mewawancara, Calderón mengaku bahwa ia tak menduga tingkat kebencian yang diterimanya.

“Tim ku mengatakan bahwa aku akan dihina, dan aku tau itu, tapi aku tak pernah membayangkan akan sampai sejauh ini,” ujarnya kepada Univision.

“…Saat itu aku merasa khawatir akan keselamatanku dan keselamatan timku,” ujar dia.

Barker adalah Grand Wizard sebutan pemimpin bagi kelompok itu dari faksi Loyal White Knights Klu Klux Klan yang berpartisipasi dalam demonstrasi sarat kericuhan Unite the Right di Charlottesville, Virginia.

Satu orang tewas dalam demo tersebut dan puluhan lainnya lukaluka saat seorang pria menabrak kerumunan demonstran dengan mobilnya. Pria tersebut merupakan simpatisan supremasi kulit putih.

“Ketika beberapa dari mereka tewas, itu tak mengganggu kami,” ujar Barker kepada WBTV menanggapi kejadian itu.

“Mereka selalu menyerang dan mengacaukan demonstrasi kami,” imbuh dia.