Menanti Fajar di Muara Bersejarah Kota Bengkulu

Bengkulu Mengawali pagi sambil memandang matahari terbit atau sunrise pasti memiliki kesan tersendiri. Apalagi, lokasi yang didatangi memiliki catatan sejarah tersendiri.

Salah satu spot favorit warga Bengkulu adalah menanti fajar di atas jembatan muara Sungai Pasar Bangkahulu. Lokasi ini berada di ujung jalan Kawasan Wisata Pantai Panjang mengarah ke Kampus Universitas Negeri Bengkulu. Jangan heran jika pada pagi hari, banyak mahasiswa yang nongkrong di sini.

Menurut pemerhati sejarah Bengkulu Kaharuddin Taher, Muara Sungai Bangkahulu merupakan cikal bakal Kota Bengkulu. Perkampungan pesisir di sisi muara didiami warga asli Bengkulu yang menetap sejak ribuan tahun lalu.

Situs sejarah bernama Fort York atau Benteng York yang merupakan benteng pertahanan bangsa Inggris pertama kali dibangun tahun 1700 ada di wilayah ini.

Satu situs lain berupa masjid yang disebut warga sebagai Masjid Lamo juga terdapat di sini. Warga yang mayoritas mencari kehidupan sebagai nelayan, kuli angkut, dan pedagang hidup berbaur dengan bangsa Inggris yang membawa misi dagang dengan membeli rempahrempah untuk dibawa ke Eropa pada masa itu.

“Tidak ada batasan antara pribumi dan bangsa koloni, semua berbaur untuk kepentingan ekonomi, kita hidup berdampingan,” ucap Kaharuddin di Bengkulu, Minggu, 20 Agustus 2017.

Nama Bengkulu sendiri berasal dari kawasan ini. Menurut Kaharuddin, pada pertengahan abad 18, pemerintahan Inggris yang dipimpin Charles Murray sedang menggelar pendataan untuk kepentingan administrasi. Namun, saat bersamaan, ada satu bangkai yang hanyut di muara.

Oleh warga lalu dibuat kesepakatan, nama wilayah itu adalah bangkai di hulu atau Bangkaihulu. Lamakelamaan terjadi semiotika ujaran yang akhirnya warga menyebut daerah itu sebagai Muara Bangkahulu.

“Seiring waktu, perluasan wilayah permukiman dan perkembangan zaman, akhirnya menjadi sebuah kota administratif yang disepakati bernama Bengkulu,” Kaharuddin menambahkan.

Wilayah ini memang memiliki keindahan pagi hari sejak lama. Warga yang sejak dahulu biasa menghabiskan pagi di kawasan ini setelah pulang dari massjid usai melaksanakan salat subuh. Muara sungai ini dulunya ramai oleh aktivitas nelayan dan kapal milik kolonial yang melakukan bongkar muat.

Sayangnya kesibukan tersebut sudah berpindah ke Pelabuhan Pulau Baai dan dermaga nelayan yang ada di Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu.

“Sangat tenang dan berkesan jika kita menanti fajar di sini,” Kaharuddin Taher memungkasi.