106 Hari Pertempuran di Marawi, Bocah dan Perempuan Jadi Militan

Struktur sejumlah bangunan masih berdiri kokoh. Namun, tak jarang sebagian yang lain ambruk nyaris rata dengan tanah.

Pada bangunan yang masih berdiri, terlihat dindingnya berhias lubang peluru. Sementara, atapnya berlubang, bekas dihantam selongsong mortar serdadu.

Begitulah kondisi Kota Marawi, Lanao del Sur sekarang. Memasuki hari ke106, pertempuran antara militer Filipina (AFP) dan kelompok pemberontak Maute yang didukung oleh militan proISIS, masih terus berlangsung. Demikian seperti dikutip dari The New York Times, Selasa (5/9/2017).

Pihak AFP memperkirakan, harihari pertempuran di Marawi tetap akan bergulir, hingga setidaknya bulan depan.

“Diperkirakan Oktober 2017 selesai,” jelas Kepala Staf AFP, Jenderal Eduardo M Ano, seperti dikutip dari Business Mirror.

Sementara Presiden Filipina Rodrigo Duterte terus memberlakukan status darurat militer di kota tepi Danau Mindanao itu hingga 31 Desember 2017.

Namun, bagi pasukan AFP yang bertempur di Marawi, hari hanyalah hari, tanggal sekadar tanggal. Dan perkiraan presiden serta para perwira tinggi militer di Malacanang, juga hanya sebatas perkiraan.

“Saya tidak dapat memastikan kapan kami bisa menyelesaikan semua ini,” kata Brigjen Marinir Melquiades Ordiales kepada seorang jurnalis The New York Times. Di kejauhan terdengar suara letupan senapan dan ledakan mortar AFP.

Sementara di dekat Brigjen Ordiales berdiri, ada tumpukan puingpuing bangunan, tampak habis disapu oleh aparat setempat. Tujuannya, memudahkan jalan para media asing yang dikawal oleh AFP melintas dan melaksanakan tur jurnalistik di Kota Marawi.

Menurut laporan The New York Times, pertempuran di sana dinilai masih menegangkan. Terbaru, pada Kamis lalu, tiga pasukan Filipina tewas dan 52 orang lainnya terluka.

Jauh sebelum pertempuran di Marawi pecah, kota tersebut telah terkenal dengan sejumlah aktivitas membahayakan yang dilakukan oleh grup separatis, ekstremis, kelompok kriminal, dan terkadang, ketiganya secara bersamaan.

Salah satu dari kelompok itu adalah kelompok pemberontak Maute. Grup beranggotakan individu bersenjata sekitar 600 orang, plus individu tambahan dari Abu Sayyaf, serta personel tambahan yang merupakan kiriman dari ISIS di Irak dan Suriah itu menyulut pertempuran pada 23 Mei 2017.

Tujuan mereka adalah membentuk reputasi sebagai jaringan ISIS di Filipina dan Asia Tenggara. Mereka pun turut mendapatkan dana dari “komando pusat” di Irak dan Suriah serta militan tambahan dari sejumlah warga negara asing simpatisan, seperti Indonesia dan Malaysia.