Asyik, Google Kini Bisa Mengerti Bahasa Jawa dan Sunda

Google punya kabar gembira bagi pengguna di Indonesia. Setelah Bahasa Indonesia, raksasa teknologi tersebut kini membawa Bahasa Jawa dan Sunda sebagai media komunikasi yang bisa dipakai pengguna saat mengakses Google, baik itu lewat platform mesin pencarian Google via teks atau voice input, serta aplikasi Google Translate dan keyboard pintar Gboard.

Dengan begitu, pengguna yang sehariharinya aktif berbahasa Jawa dan Sunda, bisa mengakses informasi pada produk Google di atas dengan mudah. Mereka tak perlu lagi menggunakan Bahasa Inggris atau Indonesia.

Google Indonesiadalam hal ini diwakilkan Head of Product Communications Putri Silalahi mengaku, angka pertumbuhan terkait penggunaan voice input di Indonesia begitu melesat. Angkatnya saja bisa menyentuh 50 persen, dan diklaim lebih tinggi di atas pertumbuhan global.

“Kita kira, awalnya orang Indonesia kalau pakai voice search di tempat umum itu malumalu. Tapi ternyata tidak sama sekali. Mungkin karena Indonesia punya banyak anak muda yang tech savy dan selalu coba teknologi terbaru,” kata Putri.

Daan van Esch, Technical Program Manager, Speech, and Keyboard Team Google, berkata dengan hadirnya akses informasi dalam bahasa Indonesia, Google berharap internet bisa semakin influsif dan berguna bagi banyak orang. Karenanya, hambatan bahasa harus diatasi.

“Hal ini sangat relevan di Indonesia seiring meningkatnya jumlah pengguna internet. Maka, kami terus berusaha untuk meluncurkan berbagai produk dan fitur yang akan memudahkan penutur bahasa di Indonesia, dan juga memenuhi kebutuhan penduduk di sini agar bisa mencari informasi kapan pun, di mana pun,” ujar Daan kepada Tekno Liputan6.com dalam sesi terbatas yang berlangsung di kantor Google Indonesia, Selasa (12/9/2017).

Dijelaskan lebih lanjut oleh Daan, Google memanfaatkan teknologi machine learning untuk bisa mengerti variasi bahasa daerah seperti Jawa dan Sunda.

Bahkan, Google bekerjasama dengan sejumlah universitas seperti UGM (Universitas Gadjah Mada), Universitas Sanata Dharma, Universitas Pendidikan Indonesia, serta sejumlah ahli linguistik bahasa daerah untuk mengambil sampel percakapan dan meminta mereka membacakan frasa yang umum digunakan.

Setelahnya, sampel akan diambil dan dicerna oleh model machine learning Google untuk memahami suara dan kata, serta meningkatkan akurasi saat menangkap lebih banyak contoh suara dan kata, dari waktu ke waktu.

“Khusus untuk voice input, bahasa asing yang hendak diucapkan akan masuk ke dalam tool Speech Recognizer. Di situ, bahasa asing akan dicerna oleh tiga instrumen machine learning: model akustik, pengucapan, serta bahasa, dan nantinya baru bisa menghasilkan teks,” ujar Daan menerangkan.