Lika-liku Bisnis Makanan Indonesia di Australia

Kekhawatiran Soal Kebersihan dan Kesehatan

Sebagai pembeli, Inggita mengaku tak pernah bertanya kepada penjual makanan di Facebook, soal bagaimana makanan disiapkan, dimasak, dan disajikan. Ia tidak pula bertanya soal sertifikat keamanan sebelum membeli makanan.

“Saya memilih penjual yang sudah memiliki reputasi baik,” ujarnya.

“Ada tiga atau empat penjual makanan yang kebetulan teman saya, jadi saya tahu mereka bersih.”

“Saya rasa karena mereka memasaknya kadangkadang, satu atau dua kali seminggu, dan terbatas hanya untuk keluarga atau temanteman, jadi saya asumsikan mereka bersih dan aman,” kata Inggita.

Dibawah undangundang Australia, para penjual makanan harus tunduk pada aturan standar makanan di Australia dan Selandia Baru. Mereka juga harus mengikuti hukum di masingmasing negara bagian.

Di negara bagian Victoria misalnya, para penjual makanan harus memenuhi persyaratan peraturan Food Act 1984.

“Siapapun yang memasak makanan di rumah dan menjualnya di jejaring sosial harus terdaftar oleh pemerintah lokal mereka [council], seperti bisnis makanan lainnya,” ujar Tim Vainoras, juru bicara Departemen Kesehatan dan Pelayanan Warga di Victoria.

“Jangan pernah membeli makanan dari penjual di sosial media, jika mereka tidak bisa menunjukkan sertifikat. Kita tidak dapat meyakinkan jika makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.”

Tim juga memperingatkan penjual makanan yang tidak mengikuti peraturan bisa berisiko terkena denda lebih dari $19.000, atau sekitar Rp 190 juta.

Penjual makanan yang tidak mau disebutkan namanya mengaku jika ia tidak memiliki sertifikat pengolahan dan penyajian makanan. Ia pun sudah paham jika bisnis yang dijalankannya melanggar hukum.

“Tapi suami saya adalah juru masak dan dia punya sertifikat,” ujarnya.

Ratih Purwati, WNI lain di Melbourne yang juga penjual makanan. Bisnisnya adalah menyediakan katering untuk acaraacara.

Ia mengatakan sertifikat pengolahan dan penyajian makanan sebenarnya bisa dengan mudah didapatkan dan cukup murah.

“Sangat mudah… kurang dari $300 (sekitar Rp 3 juta),” ujarnya.

“Saya melakukannya dengan kursus dalam sehari, kemudian di akhir kursus saya mendapatkan sertifikat.”

“Dalam kursus tersebut saya belajar bagaimana mempersiapkan makanan. Misalnya, jika kita mengeluarkan ikan dan daging dari freezer, kita harus langsung memasaknya hari itu juga. Jangan dikembalikan ke freezer. Itu yang membuat orang sakit.”

Tantangan Bagi Pemilik Restoran

Lielie Tjoa, pemilik restoran Nelayan di Melbourne, mengatakan ia tidak keberatan bersaing dengan penjual makanan rumahan di Facebook.

Meski ia mengaku penjual makanan rumahan menjual lebih murah dari kebanyakan restoran.

“Saat ini di Australia, makanan Indonesia tidak sepopuler makanan Thailand atau Vietnam,” katanya.

“Ada banyak pengeluaran untuk membuka bisnis restoran, untuk biaya sewa, membayar inspeksi kesehatan, dan kadang setelah tempat diinspeksi, selalu ada saja hal yang harus diperbaiki atau diubah.”

“Restoran juga harus memiliki insuransi yang cukup besar, karena kita harus memastikan produk makanan kita aman.”