Vespa Gembel, Alternatif Jati Diri di Tengah Kemapanan

Aki, Dhura, dan Tediana mempunyai kisah sendiri yang membuat mereka memilih untuk mencintai vespa sampah. Kesamaannya, mereka mengaku merasa percaya diri ketika duduk di skuter yang bisa dibilang jauh dari kata layak itu.

Penampilan vespa mereka yang kumal pun kerap mendapat perhatian dari orang di sekelilingnya. Bahkan, tak jarang Aki, Dhura, dan Tediana mendapat cemooh, dinilai urakan, gembel, arogan, bahkan dicurigai. Mereka sudah kebal.

Aki salah satunya. “Naik sampahan ini asyik. Mau dibilang gembel ya biarin. Kalau orang lain pamer punya mobil, saya dengan vespa ini juga bisa pamer, celetuk Aki sembari melempar tawa.

Menurut lakilaki yang sudah 12 tahun menggunakan vespa gembel, orang lain mempunyai kebebasan untuk menilai dirinya seperti apa. Namun, yang lebih tahu mana yang benar adalah diri sendiri.

Ia menampik pandangan masyarakat jika pengguna vespa sampah merupakan pengangguran dan gembel. Nyatanya tidak, banyak teman Aki berasal dari keluarga berada. Begitu pun Aki yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan memadai.

Vespa gembel, saya gembel, tapi ada pekerjaan di rumah. Saya punya kedai, ada warung nasi juga, ucap lakilaki kelahiran Tasikmalaya itu.

Aki juga menambahkan selama ini kehidupannya dengan keluarga baikbaik saja. Istri dan tiga orang anaknya tidak merasa keberatan. Bahkan, terkadang sang istri ikut datang ke acara vespa. Di acaraacara itu biasanya istri Aki membuka warung nasi untuk menambah penghasilan.

Kondisi serupa juga dialami Tediana. Ia memilih menggunakan vespa sampah bukan kerena tidak mampu membeli vespa yang layak atau kendaraan lain. Namun baginya, menggunakan vespa sampah membuat lebih percaya diri. Bahkan, lakilaki dengan tato di tubuhnya itu merasa bangga.

Ada kebanggaan sendiri saat memakai motor itu. Orangorang jadi memperhatikan saya, ujar Tediana.

Vespa sampah sendiri sebenarnya sudah menjadi tren di Indonesia sejak 2003. Fenomena ini pertama kali muncul di Jawa Timur. Namun, perlahan merambah ke pelosokpelosok daerah di Indonesia dan membentuk komunitaskomunitas. Uniknya, fenomena vespa sampah ini hanya ada di Indonesia hingga sempat mendapat sorotan dari media asing.

Pemilik vespa gembel memilih sampah tertentu yang dianggapnya menarik. Sampah itu ia peroleh saat touring. Biasanya setiap sampah yang mereka pilih untuk ditempelkan di vespanya memiliki kenangan dengan tempat atau peristiwa tertentu.

Dalam penelitian untuk skripsinya di UIN Sunan Kalijaga pada 2010, Badruzzaman Pranata Agung menulis, “Komunitas tersebut, ternyata menjadikan gaya alternatif yang menjadi budaya tanding (counter culture) terhadap budaya mainstream yang begitu hedonis dan materialistis”.

Sekaligus, ucap Badruzzaman, komunitas Vespa Gembel tersebut menjadikan diri mereka sebagai subkultur pada dunia bikers. Komunitas “gembel” ini merupakan simbol perlawanan kelas pekerja terhadap kelas borjuis pada ranah ruang publik.

Antropolog Universitas Indonesia, Hillarius S. Taryanto, melihat fenomena vespa sampah sama halnya dengan fenomena kelompok punk dan tato. Mereka membawa nilainilai pemberontakan terhadap kemapanan. Dalam fenomena vespa sampah, simbolsimbol pemberontakan lebih pada perilaku melanggar aturan lalu lintas dan gaya berpakaian serta penampilan fisik.

Selaras dengan pernyatan Aki dan Tediana, Hillarius juga membenarkan jika sebagian dari pengendara vespa sampah merupakan orangorang dari latar belakang keluarga berada.

Mereka mempunyai kecenderungan jenuh dengan rutinitas seharihari dalam keluarga. Kemudian, mereka berupaya keluar dari belenggu itu dan mencari hal baru.