Perusahaan Ritel Mainan Terbesar di AS Ajukan Pailit

Toys R Us Inc, perusahaan ritel mainan terbesar di Amerika Serikat (AS) mengajukan kepailitan pada awal pekan ini. Ini menunjukkan gangguan di industri ritel lantaran maraknya belanja online dan rantai diskon.

Pengajuan kepailitan tersebut termasuk yang terbesar dan menyebabkan kekhawatiran terhadap prospek 1.600 gerai Toys R Us Inc dan 64.000 karyawan. Rencana pengajuan kepailitan ini hadir menjelang musim liburan. Toys R Us ajukan petisi di pengadilan untuk distrik timur Virgina, Richmond, Virginia.

“Ini akan membawa bab penuh gejolak dalam sejah perusahaan Toys R Us Inc,” ujar Neil Saunders, Direktur Pelaksana GlobalData Retail, seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (19/9/2017).

Selain itu, Toys R Us Inc mengatakan kalau pihaknya menerima komitmen untuk pembiayaan lebih dari US$ 3 miliar, termasuk sindikat bank yang dipimpin oleh JP Morgan dan beberapa kreditur.

Manajemen mengatakan, kalau pendanaan baru itu diharapkan dapat tunduk pada persetujuan pengadilan. Ini agar memperbaiki kesehatan keuangaan perusahaan dan mendukung operasi yang sedang berlangsung selama proses pengawas pengadilan.

Perusahaan memiliki utang sebesar US$ 4,9 miliar dengan pembayaran bunga sebesar US$ 400 juta yang jatuh tempo pada 2018. Kemudian US$ 1,7 miliar pada 2019.

“Ini menandai awal era baru di Toys R Us di mana kami berharap kendala keuangan yang dapat menahan kami akan ditangani dengan yang langgeng dan efektif,” ujar Dave Brandon, CEO Toys R Us.

Sahamsaham perusahaan mainan AS yaitu Mattel Inc dan Hasbro Inc pun terkena imbas pengajuan kepailitan Toys R Us. Saham Mattel turun 5,7 persen menjadi US$ 14,95, saham Hasbro tergelincir 1 persen. Sedangkan perusahaan mainan AS yang lebih kecil tapi juga mengandalkan Toys R Us untuk bisnisnya turun 7,2 persen menjadi US$ 2,83.

“Jika ada arsip kebangkrutan, itu akan gangguan besar bagi semua pemasok mainan. Toys R Us harus memiliki dana untuk mendapatkan barang dagangan sehingga tetap dijual menjelang musim liburan,” ujar CEO Konsultan Ritel Klosters Trading Corp Lutz Muller.