Harga Minyak Tergelincir Imbas Ekspor AS Melonjak

Harga minyak merosot didorong dari ekspor minyak Amerika Serikat (AS) yang melonjak dua juta barel per hari ini. Ini menimbulkan kekhawatiran terkait pasokan global yang berlebih.

Pasokan minyak AS turun tajam pada pekan lalu. Akan tetapi, ekspor minyak AS naik 1,98 juta barel per hari. Ekspor minyak AS lebih menarik bagi pembeli karena harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang diperdagangkan harganya sudah diskon ketimbang Brent.

Kenaikan produksi minyak AS menekan harga WTI. Sementara itu, harga minyak Brent dipengaruhi arah kebijakan pemangkasan produksi oleh negara pengekspor minyak yang tergabung dalam the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

Harga minyak WTI susut 44 sen menjadi US$ 49,98 per barel. Sedangkan harga minyak Brent melemah 20 sen menjadi US$ 55,80 per barel.

Saat ini menjadi perhatian pasar yaitu kenaikan ekspor AS. Sedangkan produksi shale AS terus meningkat dapat merusak upaya OPEC untuk mengurangi pasokan.

“Produksi minyak AS telah memaksa OPEC dan beberapa negara nonOPEC mengevaluasi strategi mereka usai berpartisipasi untuk memangkas produksi,” kata Abhishek Kumar, Analis Interfax Energys Global Gas Analystics.

Persediaan minyak mentah AS turun 6 juta barel dalam sepekan. Penurunan itu jauh lebih besar dari prediksi analis sekitar 756 ribu barel.

Selain itu, analis melihat harga minyak Brent sudah mahal usai reli pada kuartal III sehingga mengangkatnya ke level tertinggi pada akhir September.

“Fundamental mungkin belum cukup kuat mendukung reli lanjutan terutama komoditas bergantung pada pertumbuhan seperti minyak,” kata Ole Hansen, Kepala Riset Saxo Bank Denmark.

Di sisi lain sejumlah pengamat melihat usaha mewujudkan keseimbangan harga berjalan baik lantaran konsumsi yang kuat dan pemangkasan produksi oleh OPEC.