Gelar Konferensi Cabang, Pengurus NU Bangkalan Patungan

Pengurus Nahdlatul Ulama atau NU, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mulai dari pengurus cabang, kecamatan, dan ranting di desadesa, patungan untuk membiaya konferensi yang akan digelar pada 11 Oktober 2017 mendatang.

Selain patungan, pengurus NU juga meminta bantuan ke berbagai instansi dan personel dengan mengajukan proposal.

“Sejak dulu memang begitu, kalau bikin acara kami patungan dan jalanin proposal,” ucap Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Bangkalan, KH Makki Nasir, Rabu, 4 Oktober 2017.

Usut punya usut, patungan dan proposal itu terpaksa dilakukan karena NU Bangkalan tak punya anggaran rutin. Tak ada plotting anggaran khusus untuk NU di APBD Bangkalan.

Menurut Makki, dahulu NU pernah dapat dana hibah dari Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Bangkalan sebesar Rp 50 juta, namun tidak rutin. “Anggaran segitu mana cukup buat membiayai tugas NU dalam menjaga umat,” ujar dia.

Makki menjabarkan, selama lima tahun kepengurusan NU Bangkalan periode 20122017, total anggaran hasil patungan pengurus dan sumbangan masyarakat kurang lebih Rp 800 juta. “Delapan ratus juta rupiah itu bukan setahun, tapi lima tahun,” dia mengungkapkan.

Ketiadaan anggaran rutin itu, imbuh Makki, membuat program kerja di NU tidak tuntas. Contohnya dalam pemberantasan narkoba, NU hanya mampu sebatas sosialisasi tanpa ada program lanjutan yang bisa membuat warga benarbenar menjauhi narkoba.

Adapun Wakil Bupati Bangkalan, Mondir Rofii mengatakan, patungan oleh pengurus NU janganlah dianggap sebagai sesuatu yang miris. Sebaliknya, hal itu bukti bahwa NU merupakan organisasi yang kuat dan benarbenar dimiliki oleh warga nahdliyin.

Kenapa miris kalau patungan? Hal itu, menurut dia, justru membuktikan NU organisasi yang kuat, tetap eksis walau minim anggaran. Saat ini, tinggal seberapa peduli pemerintah daerah kepada organisasi keagamaan.

“Kalau pemda beri anggaran ke NU tidak salah karena 90 persen warga Bangkalan adalah nahdliyin,” ujar dia.