Nostalgia Sultan HB X di HUT Jogja

Wayang Jogja Night Carnival yang menjadi puncak perayaan HUT ke261 Kota Yogyakarta ternyata membuat Sultan HB X bernostalgia. Gubenur DIY itu teringat pada kejadian 18 tahun lalu di tempat yang sama.

Pawai berupa seni jalanan dengan konsep wayang yang digelar di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman sampai Margo Utomo ini melibatkan 2.000 peserta dari 14 kecamatan di Yogyakarta. Mereka menampilkan beragam tokoh wayang diiringi musik yang menjadi satu kesatuan. Tugu Yogyakarta menjadi panggung utama yang dihiasi pendar lampu dari video mapping.

“Malam ini saya teringat Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1999,” ucap Sultan, Sabtu malam, 7 Oktober 2017.

Ia bercerita, pada saat itu, seluruh elemen masyarakat dilibatkan dan Tugu Yogyakarta menjadi pusat kegiatan.

“Ini mengulang peristiwa budaya itu dan bisa membantu warga melepas kepenatan,” ujarnya.

Sultan menilai, peringatan HUT Kota Yogyakarta bisa bermakna kultural, yakni sebagai wahana introspeksi diri, serta historis yaitu merefleksikan sejarah kota Yogyakarta selama 261 tahun. Ketika itu, Sultan HB I pindah dari Ambarketawang ke Keraton Yogyakarta.

“Tugu sebagai simbol semangat golong gilig, keseimbangan hubungan manusia secara vertikal maupun horizontal,” tuturnya.

Karnaval Wayang dibuka dengan Ganesha yang menjaga 100 pasukan banteng. Dewa berkepala gajah ini melambangkan ilmu pengetahuan yang membuat kebudayaan berkembang dan beradab. Kecamatan Mergangsan menampilkan Suwida, senopati dalam cerita Ramayana yang mengepung Alengka.

Atraksi dari komunitas sepeda dan para penari menonjol dalam pawai itu. Selain itu, Kecamatan Kraton menampilkan Sugriwa Subali, Umbulharjo dengan Nakula Sadewa, Danurejan dengan Karna, Ngampilan mempertontonkan Drupadi, dan sebagainya. Acara Karnaval Wayang dalam rangkaian HUT ke261 Kota Yogyakarta itu ditutup dengan kereta kuda Sembrani dan pesta kembang api.