Curahan Hati Malala Yousafzai di Hari Pertama Kuliah

Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian akhirnya memulai perkuliahan pertamanya di Universitas Oxford, Inggris. Kabar bahagia tersebut secara langsung ia sampaikan lewat akun Twitter pribadinya.

Dikutip dari laman BBC, Selasa (10/10/2017), dalam unggahan foto yang disertai cuitan tersebut, tampaknya Malala ingin menyampaikan perasaan yang ada di dalam hatinya.

Tampak pula curahan hati seputar insiden penembakan yang ia alami lima tahun lalu dan terus membekas, dan menjadi pemacu bagi dirinya untuk terus mengampanyekan pendidikan bagi anak perempuan.

“Lima tahun lalu, saya ditembak oleh orang yang ingin membungkam hak saya untuk meraih dan memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan. Hari ini, saya menghadiri perkuliahan pertama saya di Oxford,” tulis Malala dalam Twitternya @Malala.

Tak membutuhkan waktu lama, foto yang telah diunggah oleh Malala seketika menjadi perhatian publik. Dalam beberapa menit, foto yang ia unggah telah dibagikan lebih dari 10 ribu kali.

Ucapan selamat pun mengalir dari pengikutnya sembari mengucapkan harapan dan doa kepada dara cantik tersebut.

“Semua yang terbaik untukmu. Kamu adalah sosok yang sangat menginspirasi banyak gadis di luar sana,” tulis @sravanirao.

“Selamat Malala, kamu berdiri sebagai mercusuar harapan bagi para perempuan dan seluruh wanita yang ada di dunia. Nikmatilah masa perkuliahanmu,” tulis @DocRods.

Setelah pulih dari cedera yang hampir fatal, Malala dan keluarganya pindah ke Birmingham, Inggris.

Dia menjadi simbol perdamaian yang dikenal secara internasional dan menginspirasi banyak gadis di luar sana untuk mendapatkan haknya untuk dapat mengenyam pendidikan.

Perjuangan Malala Yousafzai mengkampanyekan pendidikan untuk anakanak perempuan di Pakistan nyaris membuat nyawanya terenggut.

Pada 9 Oktober 2012, gerombolan pria bersenjata sekonyongkonyong melompat masuk ke bus sekolah yang ia naiki, meneriakkan namanya, dan lantas menyarangkan peluru tajam di kepala Malala.

Pelakunya adalah para algojo yang dikirim Taliban. Kelompok berhaluan keras itu mengirimkan sejumlah militan, menyandang bedil penuh peluru, hanya untuk menghadapi seorang gadis yang kala itu baru berusia 15 tahun.

Ia kemudian dirawat di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di Rumah Sakit Birmingham.