Kala Drupadi Pentas di Tempat Ngopi

Kisah Drupadi yang lekat dengan perempuan, kerap dipentaskan melalui pertunjukan wayang, tari maupun teater. Namun, Drupadi yang dalam kisah pewayangan sebagai istri para Pandawa, kali ini ditampilkan secara kontemporer di sebuah kafe di kawasan Cihapit, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 14 Oktober 2017.

Pementasan bertajuk “Mengopi Pandawa, Ketika Manusia pada Dasarnya Rindu Ketukan” merupakan gagasan Direktur Kreatif dan Produser Drupadi.id, Kennya Rinonce. Kennya mengatakan, acara ini sebagai upaya membangun ekosistem seni pertunjukan, khususnya teater, yang bisa diterima oleh masyarakat luas.

Apalagi, selama ini, banyak orang dibiasakan menonton pertunjukan di teater. “Sampai akhirnya saya pikir menggelar teater di mana orang punya aktivitas, ya seperti sekarang ini sambil ngopi,” ucap Kennya, Sabtu, 14 Oktober 2017.

“Kita ingin membawa pertunjukan teater ke masyarakat. Istilahnya kita melakukan jemput bola,” ujar Kennya yang kali ini berkolaborasi dengan sedikitnya 17 penampil.

Menurut Kenya, kisah Drupadi yang diangkat lebih ke masa kini yang memiliki karakter rebel, witty, dan smart. Lewat teater ini, Kennya membebaskan para penampil menginterpretasi sosok Drupadi.

“Konsernnya tetap ke isu perempuan. Para penampil menampilkan karakter yang berbedabeda sesuai dengan interpretasinya,” jelasnya.

Pementasan dimulai dengan estafet reading dan storytelling. Satu per satu mereka masuk ke area kafe. Pengunjung kafe pun dibuat terhenyak dengan penampilan mereka.

Usai pementasan Drupadi, pertunjukan berikutnya adalah monolog dan tari. Lalu disambut musik klarinet dan gitar. Alurnya pun cukup jelas, mereka menggiring pengunjung ke sudut lain kafe.

Tiba di bagian halaman belakang terdapat layar putih. Tempat ini menjadi pemutaran video musik pertama karya Sujiwo Tejo bertajuk “Semacam Riang”.

Setelah pertunjukan usai, acara berdurasi dua jam ini pun ditutup dengan kegiatan ngobrol santai dan diskusi mengenai tajuk “Mengopi Pandawa” serta kaitannya dengan wayang, perempuan, dan seni pertunjukan.

Mereka yang menjadi nara sumber adalah Sujiwo Tejo (budayawan), Muhammad Dhika Ramadhan (pemilik Contrast Cafe), Yuni Fitria (barista) dan Yanti Hardi Saputra (pemilik Sanggar Ananda Visual Art School, pengajar, dan penikmat kopi).