Operasi Penggerebekan Militan Berakhir Pilu, 54 Polisi Tewas

Operasi penggerebekan sarang militan di barat daya Kairo berakhir pilu. 54 anggota polisi tewas tertembak. Menurut pemerintah, ini adalah operasi paling mematikan yang menimpa petugas keamanan Mesir.

Dua pejabat polisi yang tak mau disebut namanya mengatakan kepada Associated Press, tembakmenembak dimulai pada Jumat 20 Oktober 2017 malam dialWahat alBahriya, Provinsi Giza. Sekitar 135 km dari Barat Daya, Kairo.

Mengutip The Guardian pada Minggu (22/10/2017), aksi baku tembak terjadi ketika salah satu informan polisi menemukan persembunyian militan. Didukung satuan antiteroris, polisi mulai menembakkan peluru, roket dan granat.

Pejabat tersebut mengatakan apa yang terjadi selanjutnya tidak jelas. Namun pasukan tersebut kemungkinan kehabisan amunisi dan militan menangkap beberapa polisi dan kemudian membunuh mereka.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa kepolisian tampaknya telah jatuh ke dalam jebakan yang direncanakan dengan matang oleh militan. Korban tewas bisa meningkat, tambah mereka.

Mereka yang tewas termasuk dua brigadir jenderal polisi, seorang kolonel dan 10 letnan kolonel.

Kementerian dalam negeri Mesir, yang bertanggung jawab atas polisi, mengumumkan jumlah korban tewas jauh lebih sedikit. Dalam pernyataannya, mereka menyebut 16 petugas tewas dalam baku tembak tersebut. Ditambahkan bahwa 15 militan terbunuh atau terluka. Pihaknya kemudian merilis foto beberapa dari mereka.

Kemendagri Mesir mengatakan akan menginvestigasi insiden ini.

Sebuah rekaman suara yang diduga berasal dari suara polisi yang bergabung dalam operasi itu beredar di dunia maya. Dalam rekaman itu, petugas itu meminta bantuan kepada atasannya.

“Hanya kami yang terluka, Pak,” kata suara itu.

“Kami ada 10 orang, namun tiga lainnya tewas. Setelah terluka parah, mereka kehabisan darah hingga meninggal, pak,” lanjut suara itu. “Mereka mengambil semua senjata dan amunisi. Kami sekarang berada di kaki gunung.”

Namun rekaman itu belum bisa diverifikasi.

Sejauh ini, tak ada grup dari pihak militan mengklaim bertanggung jawab. Namun, tuduhan mengarah ke kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.

Terakhir kali pasukan keamanan Mesir mengalami hal fatal pada Juli 2015 ketika militan melakukan serangkaian serangan terkoordinasi, termasuk pemboman bunuh diri, terhadap posisi tentara dan polisi di semenanjung Sinai. Dalam insiden itu menewaskan setidaknya 50 prajurit.

Serangan militan terhadap pasukan keamanan Mesir meningkat semenjak 2013. Atau kala militer melengserkan Presiden Mohamed Morsi.

Mesir mendeklarasikan negara dalam kondisi darurat semenjak April. Langkah itu diambil setelah serangan bom menimpa kelompok minoritas Kristen. Lebih dari 100 orang tewas semenjak Desember 2015.