Penjualan Kacamata Pintar Kian Lesu, Snapchat Merugi

Tak cuma penjualan kacamata pintar yang kian lesu, Snapchat juga dilaporkan mengalami kerugian dua kali lipat dibanding 2016.

Bahkan, investor tak puas dengan pertumbuhan Snapchat yang sangat lambat ini. Laporan yang sama menyebut perusahaan menderita kerugian hingga US$ 2,2 miliar (setara Rp 29,3 triliun).

Kerugian ditengarai karena besarnya bonus saham yang dibayarkan ke sejumlah petinggi setelah Snapchat sukses IPO. Salah satunya adalah bonus fantastis senilai US$ 750 juta atau sekitar Rp 10 triliun yang dibayarkan kepada CEO sekaligus pendiri Snapchat Evan Spiegel.

Saat dihitunghitung, nilai kerugian Snapchat dilaporkan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Jika ditilik kembali, Snapchat sempat “bakar uang” hingga US$ 104 juta (setara Rp 1,3 triliun) pada kuartal pertama 2016.

Kemudian, kerugian yang diderita mencapai US$ 208 juta (setara Rp 2,7 triliun) dalam 3 bulan pertama 2017, belum lagi kerugian karena hal lain yang tak disebutkan. Padahal, pendapatan Snap hanya 90 sen alias Rp 12 ribu per pengguna.

Meski terhitung mengalami kerugian dua kali lipat dibanding tahun lalu, secara finansial perusahaan memang terus mengalami peningkatan pendapatan.

Laporan yang sama menyebutkan, pendapatan Snapchat meningkat hingga US$ 150 juta (Rp 2 triliun) pada kuartal pertama, termasuk dari penjualan kacamata Spectacles US$ 8 juta (Rp 106 miliar).

Sayangnya, hal tersebut tak memuaskan investor, karena dianggap belum mencapai laba yang ditargetkan US$ 158 juta (Rp 2,1 triliun).

Sebenarnya, Snapchat memang mengingatkan ke investor bahwa perusahaan belum bisa memastikan kapan bisa mendapatkan keuntungan. Hal itu disampaikan sebelum perusahaan melakukan IPO.

Setelah kondisi ini, Snapchat pun harus meyakinkan investor untuk meningkatkan pertumbuhan pengguna dan mencari cara agar perusahaan untung. Kalau tidak, diperkirakan harga sahamnya akan senasib dengan Twitter.