Kehadiran Kendaraan Listrik Bisa Tekan Impor Bahan Bakar

Keberadaan kendaraan listrik, tepatnya motor listrik di industri otomotif Tanah Air mulai berkembang cepat. Setelah Viar Q1, menyusul motor listrik besutan Garansindo Group dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang siap mengaspal tahun depan.

Dijelaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, pihaknya tengah berkonsentrasi dengan motor listrik, karena sesuai dengan kebijakan energi nasional (KEN), dan kemandirian energi nasional.

“Jadi, bakal menahan laju impor bahan bakar kita karena bahan bakar kita separuh lebih masih impor, dan bakal lebih hemat tentunya,” jelas Jonan saat berbincang dengan wartawan di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (30/10).

Dijelaskan Jonan, saat ini produksi minyak mentah Indonesia mencapai 800 ribu barel per hari (bph), sementara konsumsi BBM mencapai 1,6 juta bph.

Untuk menutupi kekurangan produksi minyak mentah dalam negeri, dipasok dari impor. Jika penggunaan kendaraan listrik sudah masif, diharapkan dapat meredam kenaikan impor minyak.

“Kita bisa sekurangnya tidak naik, minyak kita produksi 800 ribu barel, konsumsi kita 1,6 juta,”

Lanjutnya, untuk motor listrik jika berbicara hitunghitungan jarak dan daya listrik memang jauh lebih irit. Dengan kecepatan 60 km sampai 70 km, dan dengan jarak tempuh 60, untuk konsumsi energinya mencapai 2 kWh.

Dengan asumsi tersebut, jika harga listrik Rp 1.400 per kWh, maka biaya yang dikeluarkan sekira Rp 2.800 sampai Rp 2.900.

Nah, jika dibandingkan dengan motor konvensional, dengan jarak tempuh yang sama konsumsi bahan bakar mencapai 1,5 liter, dengan biaya Rp 10 ribu.

“Kalau motor biasa, Rp 10 ribu untuk bahan bakar RON88, ini (motor listrik) lumayan untuk masyarakat,” pungkasnya.