Donald Trump: Korut Negara Pendukung Terorisme

Sebelum pengumuman Trump, hanya ada tiga negara yang oleh AS diberi label sponsor terorisme, yaitu Iran, Sudan dan Suriah. Sebuah negara harus “berulang kali menunjukkan dukungannya terhadap terorisme internasional” untuk masuk daftar ini.

Dengan masuknya sebuah negara dalam daftar sponsor terorisme maka kemampuan negara tersebut untuk menerima bantuan luar negeri AS akan berdampak. Larangan ekspor dan impor juga akan berlaku. Selain itu, Washington dimungkinkan untuk menghukum individu atau negara yang berdagang dengan negara yang masuk daftar sponsor terorisme.

Meski demikian daftar tersebut tidak berlaku permanen dan sewaktuwaktu dapat dihapus. Sebuah saja pada 2015, Presiden Barack Obama menghapus Kuba dari daftar sponsor terorisme dan Bush melakukan hal serupa terhadap Korut, Libya dan Irak.

Bush menghapus Korut dari daftar tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir dengan Pyongyang. Namun, perjanjian tersebut tak sesuai harapan dan Korut terus melanjutkan pembangunan nuklir yang mengancam tetangganya dan digadanggadang mampu menyerang wilayah AS.

Keputusan Trump untuk menempatkan Korut dalam daftar sponsor terorisme didukung oleh mantan pejabat tinggi Korut yang membelot ke Korsel, Thae Yongho. Ia menyampaikan hal tersebut di hadapan Komite Urusan Luar Negeri AS pada awal tahun ini.

“Sekali lagi, akan lebih mudah mendorong mereka dari sistem keuangan global dan meyakinkan mitra lainnya untuk mendeteksi saluran yang digunakan Korut demi mendanai pembangunan nuklirnya,” jelas Thae.

Ia melanjutkan, “Memasukkan mereka dalam daftar juga akan meningkatkan efektivitas sanksi.”

Sebelum membelot, Thae merupakan orang kedua di Kedubes Korut di London, Inggris. Ia melarikan diri bersama istri dan dua anak lelakinya. Keluarga ini tiba di Korea Selatan pada 2016.