Nury Sybli, 10 Tahun Perjuangkan Anak Baduy Lawan Buta Aksara

Setelah berjalan selama lima tahun, aktivitas Kelas Baca Baduy sempat terhenti. Nury tidak bisa melanjutkan kelas bacanya selama dua tahun. Hal itu terjadi akibat adanya salah paham dengan warga Desa Balingbing. Mereka menganggap aktivitas yang dilakukan Nury adalah mengadakan sekolah bagi anak Baduy.

Salah seorang temannya bernama Kang Sarpin, akhirnya membantu meluruskan apa sebenarnya aktivitas Nury. Dia menjelaskan bahwa Nury hanya memberi pelajaran, bukan sekolah formal yang sedianya dilarang aturan adat. Pada 2014, Kelas Baca Baduy pun kembali dilanjutkan. Saat itu jumlah murid kelas baca semakin bertambah banyak.

Nury berharap, dengan adanya anakanak Baduy yang mengerti baca tulis ini, mereka bisa lebih menjaga kearifan lokal, menjaga tradisi yang ada di sana serta bisa menjelaskan sejarah tentang Baduy itu sendiri.

Rumah baca Akar

Belakangan ini, banyak teman Nury yang ikut tergerak untuk melakukan apa yang Nury lakukan. Tak hanya di Baduy, kini dia juga mendirikan tempat membaca di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Belitung, Sulawesi Selatan, Sumbawa, dan banyak tempat lainnya. Nury menamainya dengan Rumah Baca Akar.

“Jadi filosofi akar itu merupakan akar dari sebuah kehidupan, silsilah bagaimana mereka tumbuh. Sampai kemudian mereka siap mengangkat kembali diri mereka dan bisa mengabdi pada lingkungannya,” kata Nury.

Nury mengaku, dalam menjalankan aksinya, dia sangat terbantu dengan para donatur yang mau menyumbangkan buku bagi anakanak didiknya. Menurut Nury, mendekatkan buku untuk anakanak itu jauh lebih efektif ketimbang memberikan bantuan lainnya.

Nury mengatakan, rumah baca akar yang digagasnya menerima sumbangan berupa buku dan alat sekolah lainnya ke alamat Blackhouse Library yang beralamat di Perumahan Nuansa Asri Blok E No 10 Jl. Pendidikan Cinangka Sawangan, Depok 16516. Selain itu, bisa juga menghubungi email ke rumahbacaakar@gmail.com.