Menurut Sains, PMS Tidak Nyata, Ingin Tahu Alasannya?

Sekitar tiga sampai delapan persen wanita benarbenar mengalami premenstruation syndrome alias PMS. Namun, mengapa PMS dianggap sebagai kegilaan sebulan sekali?

Ketika Anda seringkali menggunakan istilah PMS, tahukah arti sebenarnya? Banyak orang percaya bahwa PMS menyebabkan para wanita menjadi lebih emosional dan rewel.

Faktanya, sekitar 20 penelitian yang dilakukan akhirakhir ini mengatakan hal sebaliknya. Dilansir dari yourtango.com, Jumat (24/11/2017), studi demi studi menunjukkan bahwa sebagian besar wanita tidak mengalami kelainan emosi setiap bulannya.

Tentu saja, perubahan hormon dapat membuat Anda merasa lebih emosional, atau secara fisik, terasa tidak nyaman. Namun, gejala ini tidak berhubungan dengan perasaan lain yang Anda alami.

Istilah PMS tidak hanya digunakan oleh kaum wanita, namun juga pria yang seringkali berkeras bahwa sumber kemarahan dari seorang wanita adalah karena PMS. Jadi, jika PMS itu tidak nyata, lantas apa yang membuat begitu banyak orang percaya akan hal tersebut?

1. Rasa bersalah karena tidak melakukan atau memiliki semuanya

Di era modern ini, wanita ideal dididik untuk sukses dalam kariernya. Kabar baiknya adalah bahwa wanita yang memiliki lebih banyak peran, secara emosional dan fisik terbukti lebih sehat daripada mereka yang tidak.

Sayangnya, ketika peran tersebut menjadi amat luar biasa dan mereka tidak didukung, tentu mereka akan merasa stres dan tegang. Apakah Anda salah satunya?

2. Alasan terbaik untuk menarik diri dari tanggung jawab

Mengatakan PMS lebih bisa diterima daripada beralasan bahwa Anda kelelahan dan perlu istirahat, karena pada dasarnya, banyak orang percaya bahwa seorang wanita yang baik itu yang rela berkorban bagi orang lain.

Ketika Anda mengatakan PMS, orang lain akan beranggapan bahwa hal ini hanya berlangsung sementara, bukan diri yang sebenarnya. Intinya, Anda hanya ingin mempertahankan konsep wanita baik tersebut dengan beralasan sedang PMS.