Sersan AS yang Membelot ke Korea Utara Meninggal di Jepang

Seorang mantan sersan Amerika Serikat yang membelot ke Korea Utara dan menjadi tahanan Pyongyang selama nyaris 40 tahun dilaporkan meninggal dunia.

Charles Jenkins (77) tinggal di Jepang bersama keluarganya pascapembebasannya pada 2004. Pria itu termasuk di antara empat tentara AS yang membelot pada 1960an dan sempat menjadi bintang film di Korea Utara. Namun ia satusatunya yang kemudian dibebaskan.

Rekanrekannya yang lain dilaporkan meninggal dunia di Korea Utara, termasuk James Dresnok yang dikabarkan tewas akibat stroke pada 2016.

Jenkins meninggal dunia di Pulau Sado pada hari Senin waktu setempat. Ia tinggal di sana bersama istrinya, Hitomi Soga, yang juga mantan tahanan Korea Utara. Kantor berita Jepang, Kyodo, menyatakan bahwa penyebab kematian Jenkins belum diketahui. Demikian seperti dikutip dari BBC pada Selasa (12/12/2017).

Pilihan yang Keliru

Jenkins telah menjalani kehidupan yang luar biasa, namun juga sulit di Korea Utara. Hal tersebut terungkap melalui memoar dan sejumlah wawancara yang dilakukannya.

Pada 1965, saat ditempatkan bersama dengan tentara AS lainnya di Zona Demiliterisasi (DMZ), Jenkins memutuskan meninggalkan unitnya dan membelot ke Korea Utara. Alasan keputusannya tersebut adalah ia khawatir akan terbunuh atau dikirim ke Perang Vietnam.

Ia mengatakan, pada awalnya ia pikir dari Korea Utara ia bisa mencari suaka ke Kedutaan Rusia sebelum akhirnya kembali ke Negeri Paman Sam melalui pertukaran tahanan.

Pada suatu malam di bulan Januari, Jenkins pun memutuskan berjalan melintasi DMZ dan menyerah kepada tentara Korea Utara. Saat itu usianya 24 tahun.

Namun permintaan suaka Jenkins atau warga AS lainnya ditolak Kedubes Rusia. Sebagai gantinya, mereka menjadi tahanan Korea Utara.

Warga AS itu pun dipaksa mempelajari ajaran pemimpin Korea Utara, Kim Ilsung, melakukan terjemahan dan mengajar Bahasa Inggris. Selain itu, mereka juga menjadi selebritas instan dengan bermain dalam film propaganda Korea Utara. Peran mereka sebagai penjahat dari Barat.

Jenkins mengakui bahwa pihak Korea Utara kerap menyiksa dan melakukan prosedur medis yang terkadang tidak diperlukan, termasuk memotong tato Angkatan Darat pada dirinya tanpa melalui proses anestesi.