Tak Punya Kaki, Ni Made Ratni Kini Sukses Jadi Atlet Rugby

Sebelum diamputasi, Ratni sangat sulit bergerak. Ia harus dibantu dengan orang lain. Kedua kakinya sudah memburuk sejak ia berusia 13 tahun.

“Jadi kaki saya menekuk ke depan. Normalnya, kan kaki menekuk ke belakang. Kalau saya justru menekuk ke depan. Pas usia 13 tahun sempat diterapi dan dibawa ke dokter. Tapi kata dokter sudah telat, enggak bisa diapa-apain lagi (disembuhkan),” kenang Ratni dengan nada sedih.

Kala itu, Ratni berada di antara dua pilihan. Kembali menjalani operasi atau amputasi kedua kakinya. “Kalau operasi, kaki saya hanya akan lurus terus, nanti kayak robot. Kalau potong kaki (amputasi), saya kehilangan kedua kaki.”

Sebenarnya, Ratni sudah menjalani operasi untuk menyembuhkan kelainan tulang pada kakinya pada 2009. Namun kondisinya semakin memburuk.

Selama satu bulan berpikir, Ratni pun memutuskan untuk amputasi. Dia melakuan operasi pada 2010 di Singapura.

Keputusan untuk amputasi juga tidak mudah. Orangtua sempat tidak setuju.

“Akhirnya, ada donatur sponsor dari Prancis. Dia angkat saya jadi anak dan mengajak saya amputasi ke Singapura. Setelah potong kaki itu saya sempat tinggal beberapa bulan untuk memulihkan tubuh dengan donatur dari Prancis itu. Dia tinggalnya juga di Bali. Sekarang, setelah saya sembuh, kembali tinggal sama orangtua kandung,” cerita Ratni.

Atas kebaikan donatur dari Prancis, Ratni masih menjalin komunikasi dengan sang donatur.

Kedua kaki Ratni yang diamputasi, kini justru membuat dirinya bebas bergerak menggunakan kursi roda atau kruk. Ia pun mulai bangkit menata hidup dan percaya diri. Bagi Ratna, ia tidak mau berlama-lama merepotkan orangtua. Ia bisa berpindah ke manapun dengan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *