Jalan-jalan Jadi Kebutuhan Primer, Bagaimana dengan Rumah?

Dalam sistem pembelian rumah, mencicil secara Kredit Pemilikan Rumah adalah pilihan paling populer bagi pembeli rumah pertama kali.

Hanya dengan membayar uang muka (DP) dan lolos pengajuan KPR, Anda sudah langsung bisa menikmati rumah minimalis idaman bersama keluarga tercinta. Meski begitu, uang muka sendiri nyatanya tidak mudah untuk dikumpulkan.

Menurut Mike Rini Sutikno, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) kepada Rumah.com, tantangan terbesar sebenarnya adalah bagaimana menghalau ‘serangan’ dari gaya hidup yang tinggi.

“Kegiatan belanja biasanya meningkat saat menjelang lebaran dan akhir tahun. Selain itu, tantangan lain juga kian kencang di awal dan akhir tahun. Masyarakat lebih suka bepergian, bahkan rela menghabiskan tabungan demi tiket liburan. Nah, ini patut diwaspadai. Bisa-bisa ia lupa akan tekadnya memiliki rumah secepatnya,” katanya.

Senada dengan Mike, Ike Hamdan selaku Head of Consumer Marketing juga selalu mengingatkan bahwa, “Kebutuhan primer itu sandang, pangan, dan papan. Bukan berubah menjadi sandang, pangan, dan jalan-jalan.”

Apalagi mengingat harga properti yang terus meningkat setiap tahunnya, Anda yang terindikasi hobi traveling tentunya harus lebih bijak dalam mengelola uang. Percaya atau tidak, bujet satu kali traveling domestik saja setara dengan biaya cicilan KPR satu bulan! Sayang, kan?

Untuk itu, Ike memberi beberapa yang harus diterapkan oleh calon pembeli rumah pertama kali dalam batas waktu 10 bulan ke depan agar di tahun ini bisa punya rumah.

1. Fokus

Calon pembeli rumah harus fokus pada tujuan membeli rumah. Bukan sekadar menabung, tetapi fokuskan menabung untuk membeli rumah. “Kebanyakan orang menabung tanpa fokus. Padahal semakin banyak uang, semakin banyak godaannya,” kata Ike.

2. Rencana plus timeline

Kenali harga rumah yang bisa dicapai dan tentukan lokasi. “Kunjungi pameran perumahan, lihat halaman Perumahan Baru di Rumah.com, atau datang langsung ke lokasi perumahan yang menjadi target Anda. Termasuk juga tentukan target kapan Anda ingin rumah baru itu bisa dihuni.

Setiap pengembang menawarkan fleksibilitas berbeda dalam pembayaran. “Dari situ, Anda bisa punya pilihan. Bahkan, beberapa pengembang mengiming-imingkan uang muka 0%. Celah seperti ini yang harus dimanfaatkan,” imbuhnya.

3. Targetkan untuk DP

Tabung uang untuk DP dengan jumlah tidak lebih dari 30% dari gaji per bulan dan waktunya jangan lebih dari dua tahun.

“Lebih dari dua tahun, harga rumah semakin tinggi dan khawatirnya tabungan tidak cukup lagi untuk memenuhi DP,” ujarnya. Perlu diingat, Anda juga harus menyiapkan pajak dan biaya ekstra beli rumah. Simak video berikut ini.

4. Kuatkan mental

Dengan bujet terbatas, mungkin Anda harus memilih rumah di pinggir kota. Namun pilihan ini membuat Anda ragu dengan waktu tempuh yang semakin panjang ke tempat kerja. Akibatnya Anda semakin sulit mendapatkan rumah idaman. Apakah Anda harus menyerah?

“Sebenarnya tidak harus demikian. Dalam mencari rumah, kuatkan mental agar Anda dapat mengatasi setiap kendala. Misalnya, cari tahu alternatif transportasi, dan kenali prospek perkembangan wilayah dalam beberapa tahun ke depan dengan mengetahui infrastruktur apa yang akan dibangun di sana.”

“Bandingkan juga dengan proyek perumahan terdekat untuk mengetahui mengapa proyek yang satu lebih mahal dari yang lain. Cara ini bisa dilakukan hanya dengan menyimak Review Properti yang disajikan,” ia menambahkan

5. Cari alternatif

Pinjaman dari pihak lain, seperti orang tua atau kerabat bisa jadi pilihan untuk menambah DP, karena bisa dicicil secara fleksibel batas waktunya. Meski demikian, Anda pun harus memiliki komitmen untuk membayar karena berisiko hubungan akan rusak jika ingkar janji.

6. Simpan THR dan bonus

Rumah merupakan kebutuhan utama. Bagi Anda yang belum memiliki rumah, dahulukan urusan ini dan simpan THR serta bonus secara bijak. “Bisa 50% atau 100%. Atau bisa juga dengan mencari pemasukan tambahan pada waktu luang,” Ike menyarankan.

7. Terakhir, tinggal dengan orangtua

Pilihan ini tidak masalah, selama Anda juga sedang berusaha mempersiapkan rumah sendiri. Asal, Anda punya target kapan batas waktu tinggal bersama orangtua. Terlebih ketika Anda sudah menikah, akan lebih baik jika tidak berlama-lama menetap di rumah orangtua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *