Donald Trump Gaungkan America First Saat Berpidato di Kongres AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyampaikan pidato State of the Union di hadapan Kongres AS di The Capitol, Washington DC, pada Selasa, 30 Januari 2018 malam waktu setempat.

Pidato itu berisi sejumlah paparan tentang peristiwa kenegaraan AS, baik domestik dan luar negeri, pencapaian kepresidenan Trump sepanjang tahun 2017 lalu, agenda pemerintahan yang akan ia lakukan untuk ke depannya.

Dalam pidatonya, nilai-nilai “America First” begitu digaungkan Trump.

Pada isu lapangan pekerjaan, Donald Trump menyebut bahwa pemerintahannya telah menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru, kenaikan upah, dan menurunkan tingkat pengangguran.

“Sejak pemilu kita telah menciptakan 2,4 juta lapangan kerja baru, termasuk 200 ribu lapangan kerja di sektor pabrik. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kita melihat adanya kenaikan upah. Tingkat pengangguran juga mencapai yang terendah dalam 45 tahun,” ujar Donald Trump, dalam teks pidato yang didistribusikan oleh Asia Pasifik Media Hub, Rabu (31/1/2018).

Pemotongan Pajak demi Keuntungan Ekonomi AS

Donald Trump

Pemotongan pajak adalah pencapaian lain yang disampaikan Trump. Bagaimana keluarga kelas menengah menurutnya bisa mendapatkan kelonggaran pajak bagi anak-anak mereka.

“Kita juga memangkas pajak kalangan bisnis dari 35 persen menjadi 21 persen, sehingga perusahaan-perusahaan AS kini bisa bersaing dan menang melawan perusahaan mana pun di seluruh dunia,” kata dia.

Trump menyebut sejumlah perusahaan raksasa, termasuk perusahaan otomotif seperti Chrysler yang memindahkan pabrik utama mereka dari Meksiko ke Michigan; juga Toyota dan Mazda yang membuka pabrik di Alabama.

Trump menyoroti perjanjian perdagangan yang menurutnya selama bertahun-tahun telah merugikan AS. Ia juga berjanji akan memperbaiki perjanjian tersebut guna melindungi pekerja dan keluarga AS — selaras dengan prinsip fundamental “America First”.

Tuai Kritik

Presiden AS Donald Trump di World Economic Forum, Davos, Swiss (26/1/2018) (AP)

Seperti dikutip dari CNN, isi pidato Trump yang mengklaim bahwa kebijakan pemotongan pajak pada masa pemerintahannya sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, adalah sebuah pernyataan yang tidak tetap.

Analis pajak dan data Kementerian Keuangan AS menyatakan komentar yang bertentangan dengan pernyataan tersebut.

Itu karena, pada masa presiden sebelumnya, AS telah mengalami kebijakan pemotongan pajak yang juga masuk dalam kategori terbesar.

Seperti, pada masa Presiden JFK pada 1960-an, Presiden Reagan pada 1981, Presiden George W Bush pada 2000-an, serta Presiden Obama pada 2010 dan 2013.

Tidak jelas bagaimana Gedung Putih mengukur “reformasi”. “Reformasi adalah tindakan yang jauh lebih subjektif, jadi sulit untuk menilai,” kata Howard Gleckman, seorang senior di Pusat Kebijakan Pajak.

Umumnya, ahli pajak menentukan reformasi dengan salah satu dari tiga cara, katanya. Mengganti pajak penghasilan, menyederhanakan kode dan menurunkan tarif dengan imbalan menyingkirkan sebagian besar keringanan pajak.

Dengan tindakan tersebut, Gleckman mengatakan, kebijakan pemotongan pajak pada masa pemerintahan Trump dapat dianggap gagal. Kebijakan itu tetap mempertahankan pajak penghasilan dan menyederhanakan proses perpajakan hanya pada segelintir sisi, tapi pada segelintir orang yang lain tetap berstatus sulit.

Kendati demikian, klaim Trump atas yang menyebut telah terjadi peningkatan lapangan pekerjaan dan kenaikan upah, serta penurunan tingkat pengangguran di AS adalah sebuah fakta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *