Riuh Gerhana Bulan Total dari Surabaya hingga Palu

Gegap gempita menyambut fenomena gerhana bulan langka yang memiliki nama kiasan amat panjang, Super Blue Blood Moon menyita antusias masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, warga tak ingin ketinggalan menyaksikan fenomena alam langka yang konon hanya terjadi 150 tahun sekali.

Berikut laporan soal keriuhan Gerhana Bulan Total dari tiap daerah, mulai dari Surabaya hingga Palu berdasarkan pantauan Liputan6.com.

Surabaya, Palajar Obeservasi Gerhana dari Atas Gedung

Ratusan pelajar yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Astronomi Surabaya (HPAS) begitu antusias memadati rooftop Gedung Siola Surabaya untuk melihat fenomena langka tiga gerhana sekaligus.

Fenomena langka malam ini dimanfaatkan mereka sebagai bahan observasi bersama pembelajaran ilmu astronomi.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, sangat mendukung penuh atas terselenggaranya acara ini, dengan memberikan fasilitas tempat terbuka dari atas Gedung Siola untuk observasi para pelajar yang ingin mengamati gerhana bulan secara dekat.

Acara yang dimulai sejak pukul 17.30 WIB tersebut, juga dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat, para pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

Pembina Himpunan Pelajar Astronomi Surabaya (HPAS) Muhammad Basroni mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan ilmu astronomi dan mewadahi masyarakat Surabaya yang tertarik untuk mengonservasi adanya fenomena gerhana bulan total.

“Harapannya agar masyarakat Surabaya lebih mengenal dan memahami ilmu astronomi,” kata Roni, saat ditemui disela-sela acara, Rabu (31/01/18) malam.

Roni mengungkapkan, ilmu astronomi merupakan ilmu yang sangat tua dan sangat relevan dengan perkembangan zaman. “Ke depan, ilmu astronomi ini pasti akan sangat bermanfaat di masa depan,” ucapnya.

Tidak hanya observasi dan menikmati gerhana bulan menggunakan teleskop, panitia juga memberikan pemahaman terkait ilmu astronomi, mulai dari proses bulan sebelum tertutup bayangan bumi, hingga posisinya sejajar dengan matahari. Ditengah acara juga diadakan salat gerhana bulan secara berjamaah.

Menariknya, dalam mengamati gerhana bulan para pelajar ini menggunakan teleskop handmade yang mereka buat sendiri menggunakan bahan bekas yang terbuat dari pipa paralon dan lensa fotocopy.

Menurut Roni, fenomena gerhana bulan malam ini tidak seperti biasa, malam ini terjadi tiga fenomena gerhana bulan sekaligus, yaitu gerhana bulan super moon, blue moon dan blood moon.

“Saat ini bentuk orbit bulan terhadap bumi miring sekitar lima derajat, fenomena ini tidak bisa diprediksi apakah satu tahun sekali atau dua tahun sekali,” ujarnya.

Peristiwa ini, lanjut Roni, pernah terjadi di Indonesia sekitar 30 tahun yang lalu. Sementara di Negara Amerika, peristiwa ini terjadi sekitar 250 tahun yang lalu.

“Untuk gerhana bulan total pernah terjadi di Indonesia tahun 2015, tetapi bukan gerhana super, blue, dan blood moon, namun hanya gerhana bulan total saja,” katanya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, Devi Kurniawan yang hadir dalam acara tersebut sangat mengapresiasi atas terselenggaranya acara malam ini.

Ia mengatakan, selain malam ini bisa melihat fenomena gerhana bulan secara langsung, disini mereka juga diberikan pemahaman terkait ilmu astronomi.

“Acara malam ini dikemas begitu bagus, mulai dari observasi ilmu astronomi, shalat gerhana bulan bersama, hingga nonton bareng,” ujarnya.

Warga Jogja Ramai-Ramai Unduh Aplikasi Lihat Gerhana Bulan Total

Gerhana

Langit mendung setelah hujan melanda Yogyakarta membuat gerhana bulan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang maupun teropong. Ribuan warga Yogyakarta yang sudah memenuhi kawasan Alun-Alun Utara bergegas mengunduh aplikasi dari ponsel masing-masing.

Mereka baru mengetahui ada sejumlah aplikasi di ponsel yang bisa melihat pergerakan benda langit secara langsung setelah diberitahu oleh komunitas Jogja Astri Club. Komunitas ini mengadakan pantauan gerhana bulan total di Alun-Alun Utara dengan menggunakan teropong, binocular, dan moon phase.

“Saya tadi ingin lihat langsung dari jam 7 malam sudah di sini,” ujar Ravika Fathya (23), mahasiswi jurusan Sastra Inggris UNY, Rabu (31/1/2018).

Ia sedikit kecewa mengetahui gerhana bulan total tidak tampak sama sekali karena tertutup mendung. Namun, kekecewaannya tidak berlangsung lama setelah salah seorang anggota komunitas menyuruhnya untuk mengunduh aplikasi Stellarium Mobile dari ponselnya.

Dengan mengarahkan ponsel ke langit, Vika bisa memantau pergerakan gerhana bulan total bahkan sampai ke perubahan warnanya. Ia juga merekam fenomena itu langsung dari aplikasi yang baru saja diunduhnya.

Vika merupakan salah satu pemburu fenomena alam. Ia ingin melihat secara langsung kejadian-kejadian alam yang jarang terjadi karena hanya berlangsung beberapa puluh bahkan ratus tahun sekali.

Menurut perempuan asal Balikpapan ini berbagi gambar atau video gerhana bulan total menjadi salah satu caranya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Pada tahun lalu, ia juga memburu gerhana matahari. Saat itu, Vika berhasil melihat dengan mata telanjang.

Ketua Jogja Astro Club, Agung Laksana, menyebutkan dua pilihan kegiatan yang dilakukan pada saat gerhana bulan total. Pertama, apabila cuaca cerah maka pengamatan dilakukan di Alun-Alun Utara dan jika mendung cukup dari Masjid Gede Kauman yang letaknya berseberangan dengan Alun-Alun Utara.

“Meskipun cuaca hujan tetapi kami tetap memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk merekomendasikan aplikasi dari ponsel masing-masing,” kata Agung.

Ia menilai, gerhana bulan kali ini memiliki kenaikan tersendiri, yakni jarak bulan terdekat dengan bumi dan merupakan bulan purnama kedua pada Januari.

Agung mengapresiasi antusiasme masyarakat terhadap fenomena gerhana bulan total. Situasi ini membuktikan, masyarakat tertarik mengetahui fenomena alam yang jarang terjadi secara langsung.

Cirebon, Nonton Gerhana Bulan Langka Hanya dengan Kamera

Gerhana

Puluhan warga Cirebon memadati lapangan alun-alun Kejaksan Kota Cirebon. Mereka yang datang ingin melihat fenomena langka Super Blue Blood Moon.

Pantauan di lokasi, warga mulai memadati alun-alun Kejaksan Kota Cirebon setelah Maghrib. Warga juga menyempatkan diri dulu mengikuti Solat Gerhana di Masjid Raya At Taqwa Kota Cirebon.

Kondisi cuaca di langit Kota Cirebon sempat berawan. Berbagai cara dilakukan untuk mengabadikan momen Gerhana Bulan langka itu.

Mulai dengan menggunakan gawai hingga teropong bintang rakitan. Dari seluruh aktivitas warga melihat gerhana bulan, cara unik dilakukan komunitas fotografi Klise Cirebon.

Beragam jenis kamera dan lensa berpadu dengan keahlian yang dimiliki, pecinta fotografi Cirebon ini berhasil mengabadikan gerhana bulan.

“Kendalanya si hanya cuaca saja tapi tadi sempat kok jam 20.00 WIB malam terlihat total dan tertangkap kamera,” kata Ketua Komunitas Klise Fotografi Cirebon Danang Priambodo, Rabu (31/1/2018).

Danang mengaku, ada seni tersendiri mengabadikan momen langka tersebut dengan sebuah kamera. Selain kesabaran, para fotografer Cirebon juga dituntut mampu menguasai kamera yang dipegangnya.

Terutama menahan kamera tetap fokus saat objek gerhana bulan ada dalam bidikan mereka. Apalagi, ukuran lensa yang dibawa berbeda dengan teropong bintang. Dia mengaku bangg dapat ikut serta mengabadikan momen langka tersebut bersama komunitasnya.

“Ada yang foto ada yang vidio dari kamera bahkan ada yang live IG dari layar kamera dengan gawai,” ujar dia.

Bandung, Warga Bertafakur di Atas Gedung

Gerhana

Banyak cara dilakukan masyarakat dalam menikmati fenomena alam seperti Gerhana Bulan Total yang terjadi pada, Selasa, 31 Januari 2018 malam. Bengkel Studio Budaya (Bestdaya) menggelar ritual tafakur atau perenungan khusus untuk menikmati fenomena yang terjadi ratusan tahun ini.

Para peserta maupun simpatisan wadah pemerhati budaya Sunda ini melaksanakan tafakur bertema Mencermati Fenomena Alam Gerhana Bulan Total Supermoon di Bumi Sunda yang dilaksanakan di rooftop Hotel Bidakara Grand Savoy Homann, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung.

Para peserta tafakur berkumpul terlebih dulu sebelum naik ke rooftop sekitar pukul 18.00 WIB. Lalu, saat berada di rooftop, para peserta menjalani ritual tafakur wayah dilanjutkan dengan mencermati Samagaha.

Samagaha sendiri diambil dari bahasa Sunda dan berarti gerhana. Ada samagaha panonpoe (matahari), ada juga samagaha bulan. Untuk kedua peristiwa sama-sama dilakukan tafakur.

Selain itu, tampak di sekeliling peserta terdapat beberapa teleskop yang telah disediakan untuk melihat permukaan bulan. Hanya saja, cuaca mendung membuat penampakan bulan jadi tidak terlihat.

“Tafakur wayah artinya kita berdoa dengan mengingat waktu. Dilakukan di sini sesuai bahasa lokal samagaha (gerhana) di mana masyarakat Sunda akan melakukan prosesi yang sifatnya perenungan,” kata salah satu tokoh Bestdaya, Miranda Halimah (59).

Dipilihnya tempat yang cukup tinggi ini menurut dia agar lebih dekat ke langit.Terdapat perbedaan samagaha dengan lini (gempa) di mana gerhana dapat dihitung sedangkan lini tidak tahu kapan munculnya.

“Oleh karena itu, ini bukan hanya ritual tetapi juga harus menjadi momen introspeksi sekaligus melihat tanda-tanda alam,” jelas dia.

Ritual ini ditandai dengan iringan musik tradisional khas Sunda. Selain itu, terdapat buah-buahan, beras merah dan kelapa. Lebih lanjut Miranda berharap ritual Samagaha ini disambut dengan penuh rasa syukur dan penuh pengharapan.

“Sebetulnya semua ini dilakukan sebagai ucapan syukur. Kita bisa mengukur waktu sama hari dan apa yang mau kita lakukan. Kalau terjadi suatu pada kita itu bukanlah kehendak kita,” kata Miranda.

Perempuan yang aktif sebagai pegiat kalender Sunda ini menuturkan, ritual tafakur tidak hanya berlaku saat gerhana bulan tetapi juga gerhana matahari. Namun, yang terpenting menurut dia adalah dengan adanya matahari, bulan dan benda langit lainnya yang membantu keberlangsungan hidup manusia diiringi dengan rasa syukur.

“Harapannya kita mencoba membangkitkan kembali bagaimana orang kembali ke jati diri di mana para leluhur kita sudah melakukan ini dan tidak sekadar ngomong tapi melaksanakan,” ucapnya.

Gerhana Tertutup Mendung, Warga Kalbar Salat di Masjid

Ribuan Umat Muslim Laksanakan Salat Gerhana di Istiqlal

Gerhana Bulan Total di sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Barat, tidak terlihat. Itu akibat cuaca tidak bersahabat akhir-akhir terjadi di Bumi Khatulistiwa.

Di Kabupaten Sanggau, misalnya, warga sudah keluar rumah sejak pukul 18.15 WIB di pinggiran sungai Kapuas untuk menyaksikan fenomena alam alangka itu. Namun, mereka harus gigit jari karena gerhana bulan total tidak terlihat.

“Tidak kelihatan, saya barusan pulang salat gerhana bulan di Masjid Agung Sanggau. Langit cenderung gelap di sini,” kata Maya kepada Liputan6.com, warga Kabupaten Sanggau, Rabu, 31 Januari 2018.

Maya berujar, di tempat dia warga sudah mengetahui informasi adanya gernaha bulan melalui media sosial atau sosmed. Untuk itu, mereka di sana sudah jauh-jauh hari mempersiapkan. Mulai mempersiapkan kamera DLSR hingga kamera ponsel.

Ari Susanto sempat melihat gerhana bulan di Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau, hanya beberapa detik saja. “Tertutup awan. Sempat kelihatan tadi,” kata dia, yang merupakan warga Kecamatan Meliau.

Sedangkan di Kota Pontianak, ribuan umat muslim memadati Masjid Raya Mujahidin Pontianak.  Anak-anak kecil, nenek, kakek hingga orangtua berdatangan ke Masjid termegah itu. Tujuanya jelas, untuk melaksanakan ibadah salat khusuf atau salat sunah gerhana bulan.

Gorontalo, Ratusan Siswa Salat Gerhana

Gerhana

Supermoon benar benar menyita perhatian publik, tak terkecuali di Provinsi Gorontalo. Ratusan siswa,guru dan orang tua siswa TK, SD dan SMP Al Islah,kota Gorontalo tampak mengelar shalat gerhana saat fenomena Super Blue Blood Moon terjadi di daerah itu.

Shalat gerhana berjamaah digelar usai shalat isya, dan dilanjutkan dzikir bersama kepada pencipta dan tausiah agama dari ustad setempat. Para jamaah, terutama siswa tampak antusias dan khusyu mengikuti shalat gerhana.

“baru sekali ikut shalat gerhana, kesini diantar orang tua setelah diajak ustad untuk shalat gerhana disekolah,”  kata Muhamad Aditya Indra Daniswara, salah satu siswa SD Al islah.

Dirinya mengaku senang bisa mengikuti shalat gerhana, terlebih ini merupakan pengalaman pertamanya melihat fenomena langka tersebut. Apalagi, usai shalat para siswa juga secara bergantian menyaksikan gerhana bulan melalui teleskop milik salah satu jurnalis yang kebetulan meliput ditempat tersebut.

Herli Setiawan Karim, ketua yayasan terpadu Al Islah mengatakan kegiatan it segaja dilakukan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan agama kepada para siswa terhadap berbagai fenomena yang terjadi di alam terutama tentang gerhana bulan.

“Kita ingin ajarkan kepada siswa, yang perlu kita lakukan adalah berdoa dan shalat. Ini suatu bentuk pembalajaran diri kepada siswa agar kita ingin selalu mendekatkan kepada Allah S.W.T,” urai dia.

Tak hanya siswa sekolah, para ASN di kabupaten Gorontalo dan kabupaten Bone Bolango juga melaksanakan shalat gerhana seiring dengan keluarnya surat edaran dari kepala daerah masing masing.

Di kabupaten Gorontalo, ratusan ASN memadati Masjid Agung Baiturahman untuk melaksanakan shalat gerhana.

“Iya benar, ada surat edaran kepada para pimpinan organisasi perangkat daerah dan seluruh staf muslim untuk berkenan hadir shalat gerhana di masjid Agung,” kata Rahmat Muhamad, Kabag Humas Pemda Kabupaten Gorontalo

Sementara itu, di kabupaten Bone Bolango, surat  dengan isi imbauan yang sama juga diedarkan hingga ke ASN yang bertugas di pelosok desa. Menjelang shalat isya, para ASN dengan berpakaian putih telah memadati gedung islamic Center, untuk melaksanakan dzikir dan shalat gerhana.

“Ini bagian dari ibadah sunah,kemudian  sebagai bagian rasa syukur karena ini peristiwa alam yang hanya terjadi lebih dari seratus tahun sekali dan kita hidup di zaman yang bisa menyaksikan fenomena gerhana bulan total,” ucap Hamim Pou, Bupati Bone Bolango, usai pelaksanaan salat gerhana.

Fenomena langka tersebut menurutnya bisa mengukuhkan iman bagi umat muslim kepada sang pencipta. Ia pun bersyukur banyak jamaah yang meluangkan waktu untuk bersama sama shalat gerhana  yang digelar oleh pemda Bone Bolango.

Sayangnya, meski disambut begitu antusias, namun detik demi detik terjadinya gerhana bulan, tidak dapat disaksikan secara utuh.  Tebalnya awan yang menutupi hampir seluruh langit Gorontalo membuat penampakan bulan terlihat samar-samar.

Sensasi Gerhana Bulan di Jembatan Lengkung Palu

Gerhana

Gerhana Bulan Total (GBT) Perige atau Super Blue Blood Moonyang terjadi tepat hari ini, Rabu (31/01/18) menarik perhatian manusia seantero bumi. Di Palu peristiwa alam yang terjadi sekitar 150 tahun yang lalu ini pun membuat warga untuk berbondong-bondong menyaksikannya.

Hampir semua tempat wisata yang ada di kota Palu dipadati warga hanya untuk melihat fenomena ini. Seperti halnya di Jembatan IV Palu, warga ramai datang bersama keluarganya sekedar melihat peristiwa alam tersebut.

“Menyaksikan gerhana bulan dari bawah jembatan IV sensasinya luar biasa, seperti bukan di Kota Palu,” tutur Rian warga kelurahan kabonena yang datang beserta keluarganya hanya untuk menyaksikan GBT.

Rian menilai dari seluruh tempat yang ada di Kota Palu, Jembatan IV atau yang dikenal juga dengan nama jembatan Kuning Palu adalah tempat yang paling terbaik untuk melihat gerhana bulan.

“Dari tempat ini kita bisa melihat dengan jelas Gerhana Bulan tanpa terhalang awan, selain itu cahaya lampu Jembatan IV Palu menambah indah sensasinya, apalagi tepat berada dibibir teluk palu, peristiwa ini tidak akan terlupakan,” katanya.

Namun, Rian melanjutkan, Sangat disayangkan pemerintah tidak menyediakan teropong seperti dikota-kota lain. “tadi saya saksikan di TV, kalau di Kota Semarang ada empat buah teropong yang disediakan untuk warga bisa menyaksikan dengan jelas peristiwa langkah ini,” ucap Rian.

Jembatan IV Palu memang sudah menjadi salah satu ikon kota Palu. Sebab, model lengkung Jembatan IV Palu diketahui hanya ada 3 di dunia, Di Paris, Jepang dan di Palu.

Sebelumnya, pada tahun 2016 silam fenomena langka Gerhana Matahari Total (GMT) juga terjadi, dimana pada peristiwa itu kota Palu menjadi salah satu kota yang ada di Indonesia yang ditetapkan sebagai tempat terbaik untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.

Bahkan pemerintah Palu pada saat itu mengabadikannya dengan membuat tugu Gerhana Matahari Total (GMT) yang terletak di bibir pantai Talise Palu.

Hingga kini monumen GMT 2016 itu menjadi salah satu objek wisata warga yang hampir setiap sorenya memadati area tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *