Rumah Cimanggis, Tempat Pelarian Gubernur Belanda dari Malaria

Farah Diba antusias menjelaskan sejarah Rumah Cimanggis. Ia membuka bundelan berisi kertas-kertas di hadapannya. Tangannya mengambil tiap lembaran itu dengan perlahan.

“Asal-muasalnya tak lepas dari cerita Gubernur Jendral VOC ke-29 Van der Parra,” katanya memulai perbincangan di kediamannya, Perumahan Pondok Sukatani Permai, Kecamatan Tapos Depok, Sabtu (3 Februari 2018) lalu.

Farah salah satu pengiat sejarah yang sedang berupaya menyelamatkan Rumah Cimanggis dari ambang kehancuran. Rumah itu kini terancam akibat wacana pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di lokasi itu.

Farah menutur Rumah Cimanggis awalnya milik Gubernur VOC Van der Parra. Ia meminta kerabatnya David J Smith membangunkan rumah di Jalan Raya Bogor KM 34.

Bangunan itu yang kini lebih dikenal sebagai Rumah Cimanggis. Luasnya 1000 Meter persegi, dengan ciri khas atap tinggi yang lebar.

Bagian dalamnya memperlihatkan unsur gaya Louise ke -15 yaitu jendela lebar dan tinggi, serta melengkung di bagian atasnya.

Van de Parra bersama sang istri Andriana Johanna Bake menjadikan rumah itu sebagai persinggahan. Farah menyampaikan, Van de Parra, membangun rumah itu bukan tanpa alasan.

Saat itu, Batavia tengah diserang wabah malaria. Akibatnya, seluruh Gubernur VOC termasuk Van de Parra mencoba mencari tempat tinggal sementara.

Tempat Persinggahan

Pilihan Van de Parra jatuh kepada Rumah Cimanggis karena kawasan itu udaranya masih segar. Rumah persinggahan itu jamak di kalangan pejabat Belanda saat wabah malaria melanda.

Setelah wabah itu berakhir, Van de Parra bersama istrinya kembali ke Istana megahnya yang berada di Batavia. Sekarang rumah itu kita kenal dengan Rumah Sakit Gatot Subroto.

Sementara itu, rumah di Cimanggis hanya dijadikan tempat persinggahan sementara untuk beristirahat sejak setelah mengecek pasar Cimanggis. Dia hanya datang seminggu tiga kali ke rumah itu.

Andriana Johanna Bake adalah pemilik dari Pasar Cimanggis atau sekarang orang mengenalnya dengan Pasar Pal di Kelapa Dua, Depok. Lokasinya berada tak jauh dari Rumah Cimanggis. Di sana tak hanya menjual bahan pangan tetapi juga kerap dijadikan pos istrahat bagi musafir.

“Dulu panjangnya Pasar Pal sampai ke pintu depan Rumah Cimanggis,” terang dia.

Diwariskan

Rumah Cimanggis

Pada 1778, Adriana Johanna Bake, meninggal dunia. Rumah Cimanggis lalu diwariskan kepada sang Arsitek. Tetapi kemudian disita karena David J Smith bangkrut.

“Setelah bankrutnya David J Smith mungkin sudah banyak beralih tangan. Kami temukan data tahun 1935 pemiliknya bukan lagi David J Smith melainkan Samuel De Mayyer,” ujar dia.

Selanjutnya, tidak ada lagi yang mengetahui riwayat kepemilikannya. Tahun 1968, RRI mengambil tanah dan menggunakannya sebagai stasiun pemancar.

Sementara rumah Cimanggis tidak lagi berpenghuni.Tak pelak, kondisinya menjadi tak terawat dan banyak mengalami kerusakan. Sebagian atap bangunan sudah runtuh.

Pada bagian halaman ditumbuhi tanaman liar. bahkan di dalam ruangan ada pohon besar yang akarnya melilit pada dinding.

“Jika dibiarkan terus kondisi rumah akan semakin hancur,” tutup dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *