Jelajah Pagi di Garut, Jangan Lupa Cicipi Penganan Jadul Burayot

Berbicara makanan khas suatu daerah memang tidak ada habisnya. Hasil olah tangan andal warga lokal memang tetap memiliki cita rasa tersendiri, tak lekang dimakan waktu. Pun makanan asli Garut, Jawa Barat yang satu ini, burayot.

Namanya memang tidak sepopuler Dodol Picnic yang mendunia dan menjadi julukan kota. Namun, penganan khas zaman dahulu (jadul) yang terbuat dari tepung beras dan gula aren ini justru sudah dinikmati jauh sebelum dodol ada di Garut.

“Memang jika sejarah awal mulanya saya sendiri tidak tahu persis, tapi info secara turun-temurun dari orangtua, memang sudah ada sejak zaman penjajahan,” ucap Rika Rianti, pengusaha penganan burayot di Garut, saat ditemui pada Senin pekan terakhir Januari lalu.

Bagi Anda yang berencana melancong ke Garut, dalam waktu dekat, makanan khas dari Kecamatan Leles ini bisa dinikmati di Saung Burayot di Jalan Baru Cipanas. Terutama, saat pagi hari.

Berada di samping kanan jalan sebelum menuju pusat wisata air hangat Cipanas, Garut, para pelancong bisa memesan, menikmati atau sekadar mencicipi makanan khas burayot yang satu ini.

“Paling pas pasangannya disajikan sama teh tawar hangat, mantap,” ujar Hali Wardana, sang suami menambahkan.

Kesukaan Bangsawan Belanda

Konon, burayot adalah penganan kesukaan menak atau bangsawan Belanda. Meskipun terbilang jadul, di tangan pasangan suami-istri, Rika Rianti (47) dan Hali Wardana (57), makanan itu kini hidup kembali untuk dinikmati masyarakat luas.

“Lebih tepat eksis kembali dalam 3-4 tahun belakangan ini,” kata Rika.

Burayot yang berarti menggelantung dalam bahasa Indonesia, memang terbilang makanan unik buat warga Garut. Meskipun demikian, bukannya lebih mudah didapat, penganan ini justru terancam punah karena proses pembuatanya yang membutuhkan ketelitian.

“Buat generasi sekarang yang serba instan, memang malas mempelajarinya,” tutur dia.

Rahasia Pembuatan

Rika pun berbagi resep pembuatan penganan burayot. Pertama, proses penggorengan yang tepat dengan memperhatikan suhu minyak yang seimbang, memang membutuhkan keterampilan. Terlambat sedikit, bahan adonan yang telah disediakan terancam gagal total.

“Ada yang bulatannya tidak sempurna, pecah bahkan tidak mengembang,” ujarnya.

Rika menyatakan, bahan baku yang digunakan dalam burayot tidak ada yang aneh. Hanya tepung beras dan gula aren. Namun, hal yang membedakan terletak pada proses penggorengan berlangsung. “Kuncinya, kita harus pas waktunya saat pengangkatan di wajan penggorengan itu,” katanya.

Setelah adonan tepung beras dan gula aren tercampur sempurna, bahan adonan kemudian diubah menjadi bola-bola kecil. Selanjutnya dipipihkan hingga rata sempurna sebelum dilakukan penggorengan di atas wajan dengan titik didih minyak yang memadai.

Saat pertama kali digoreng, terlihat bahan adonan pipih tersebut, langsung menggelembung dan persekian detik kemudian, harus segera diangkat untuk selanjutnya ditiriskan agar mendapatkan bentuk yang ideal.

“Kalau tidak (segera) adonan tidak menggelembung sempurna, itu gagal, paling nanti nanti jadi bahan tester pembeli saja,” kata dia.

Ada 18 Varian Rasa

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya keahlian memasak burayot, Rika yang selalu mengerjakan bahan dengan tangannya sendiri mampu menghasilkan ratusan burayot setiap harinya.

“Paling dalam satu piece (bungkus) berisi 20 butir hanya lima menit penggorengan,” tuturnya.

Nah, bagi Anda yang tertarik mencicipi makanan jadul di zaman now, Saung Burayot di Jalan Cipanas Baru, Garut, siap melayani permintaan konsumen hingga 18 varian rasa yang siap memanjakan lidah.

Beberapa rasa yang siap disajikan antara lain burayot isi keju, pisang, stroberi, oreo, caramel, kelapa, cokelat, kacang tanah, kacang mede, wijen, coklat isi keju, dan lainnya.

“Bisa pesan dulu minimal dua hari agar disiapkan bahan dan lainnya sesuai permintaan,” katanya.

Oleh-Oleh Presiden Jokowi

Seiring banyaknya permintaan pesanan untuk melebarkan sayap usahanya, Rika mengaku hal itu tidaklah mudah. Selain membutuhkan tangan yang andal juga diperlukan ketelitian dalam pemilihan bahan yang seimbang, sehingga dihasilkan produk yang lezat.

“Istilahnya kalau makan nasi dengan beras kurang baik kan tidak pulen (enak). Ini pun sama, tepung beras dan gula arennya harus yang baik,” tutur dia.

Selain itu, proses pembuatan yang tidak mudah dikhawatirkan menghasilkan produk yang tak sesuai permintaan pasar. Mulai bentuk khasnya menggelantung, hingga rasa yang disajikan.

“Kalau bahan bagus, tapi menggorengnya tidak tepat, ya sulit juga. Waktunya harus tepat antara bahan dan proses masak,” ungkap dia.

Selain dinikmati lidah masyarakat Sunda yang doyan makanan manis, produk burayot buah tangannya kerap dijadikan oleh-oleh khas Garut selain dodol untuk dibawa ke luar Pulau Jawa. “Ada yang pesan ke Medan, Ambon, bahkan Papua,” ujar Rika.

Namun, dari sekian pemesanan, ada satu permintaan yang membuat ia bangga saat diminta menjadi buah tangan oleh-oleh untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat kunjungan kerja ke wilayah Tasikmalaya, tahun lalu.

“Ada orang khususnya yang minta dibuatkan buat beliau, saya jelas bangga. Apalagi, kalau tahu, Pak Jokowi yang langsung menikmatinya, semoga berkenan,” kata Rika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *