5 Jenis Aksi Cyberbullying di Medsos, Kamu Pernah Merasakannya?

Berita bohong atau hoax sudah menjadi musuh bersama di media sosial. Selain itu, ujaran kebencian (hate speech) dalam bentuk cyberbullying juga wajib kita lawan di media sosial karena memberikan efek psikologis seperti kecemasan dan rasa isolasi.

Cyberbullying sendiri adalah bentuk dari aksi bullying, di mana ketika pelaku, terutama murid sekolah, menolak meminta pertolongan guru saat dikerjai teman sekelasnya. Setidaknya, setelah pulang sekolah mereka bisa terbebas dari si tukang bully.

Namun, berbeda dengan bullying, cyberbullying justur merupakan aksi di mana pelaku dapat mengintai korbannya dimanapun ia berada, apalagi di zaman media sosial seperti sekarang.

Menurut data Bullying Statistics yang dilansir Kamis (15/3/2018) cyberbullying sangat berbahaya bagi anak-anak muda karena mengakibatkan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri. Sayangnya, pelaku cyberbullying belum tentu sadar bahwa perilakunya tidaklah terpuji.

Berikut lima jenis aksi cyberbullying yang sering beredar di media sosial. Pernahkah kamu merasakannya?

1. Hinaan fisik

Yang paling umum terjadi adalah hinaan fisik, atau body shaming (mempermalukan tubuh).

Para wanita sering disebut gemuk, sehingga mereka malu-malu menunjukan tubuh mereka. Selain berat badan, hinaan rona kulit yang gelap juga cukup sering terdengar di media sosial.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika korban body shaming melakukan upaya tidak sehat untuk mencapai “kecantikan” atau “ketampanan” ideal.

Satu hal yang harus diingat adalah lebih baik menjalankan pola hidup sehat ketimbang melakukan cara-cara tidak sehat agar sekadar tampil menarik di media sosial.

Penyanyi terkenal seperti Adele, Lady Gaga, dan Demi Lovato juga tidak segan untuk menyentil balik orang-orang yang menghina fisik mereka.

2. Ras

Tidak ada yang memilih ingin terlahir dengan warna kulit yang mereka inginkan.

Sayangnya, belakangan ini banyak orang yang menghina ras orang lain hanya karena alasan politik.

Lucunya lagi, oknum-oknum rasis tersebut mengaku dari golongan yang membela agama, padahal yang menciptakan ras berbeda adalah Tuhan.

Konflik rasial seringkali timbul akibat prasangka, contohnya salah satu ras dianggap sering berbuat kriminal, atau ada ras yang dianggap serakah, dan sebagainya. Padahal sifat-sifat seperti itu ada di banyak orang, dan tidak di satu ras saja.

Kejadian seperti ini berlangsung di beberapa negara, dan berbagai ide pun dijalankan untuk melawan rasisme, salah satunya dengan meningkatkan inklusivitas antar ras.

3. Merendahkan Hobi

Beruntunglah orang-orang yang memiliki hobi sehingga tidak menghabiskan waktunya untuk mengusik orang lain.

Sayangnya, di media sosial ada orang-orang yang tanpa alasan yang jelas melakukan aksi nyinyir ke hobi orang lain.

Aksi nyinyir pada hobi dapat menghalangi potensi seseorang karena tiap orang punya passion yang berbeda.

Tiap orang memiliki karunia berupa kemampuan yang berbeda-beda, jangan sampai passion dan talenta kita di sebuah bidang yang kita cintai malah kita tinggal karena takut dicibir orang lain.

Ingatlah kata-kata Steve Jobs, sang pendiri Apple, “Jangan biarkan berisiknya opini orang lain menenggelamkan kata hatimu.”

4. Orientasi Seksual

Di media sosial banyak yang terang-terangan meghina orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda.

Di Indonesia sendiri sempat ada usaha untuk mengkriminalisasi pasangan sesama jenis, sementara di negara-negara seperti Jerman, Prancis, Inggris, Kanada, Australia, dan Finlandia, justru sudah ada perlindungan hukum bagi pasangan-pasangan tersebut.

Untungnya, makin banyak figur berprestasi yang memiliki orientasi seksual berbeda dan mulai angkat suara, sebut saja Tim Cook yang menjabat sebagai CEO Apple, Sam Smith yang memenangkan Oscar dan Grammy, dan presenter terkenal Ellen DeGeneres.

Berbagai perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, dan Microsoft juga melakukan upaya untuk mengurangi diskriminasi pada mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda.

5. Seksisme

Seksisme adalah melakukan diskriminasi atau merendahkan orang lain berdasarkan gender yang ia miliki, terutama bila orang itu dianggap tidak menjalankan sesuatu yang diharapkan masyarakat, akibatnya timbul perilaku ikut campur atau menghakimi pada pilihan pribadi orang lain.

Seksisme kerap menimpa kaum hawa, dan dapat menghambat mereka untuk berprestasi karena anggapan akan perempuan harus fokus pada pekerjaan rumah tangga dan cukup menjadi pendamping saja.

Sikap seperti itu dikhawatirkan membuat perempuan ragu-ragu untuk melanjutkan karir atau pendidikannya. Sebagai contoh, masih ada anggapan bahwa perempuan harusnya tidak sekolah tinggi-tinggi dan tidak boleh menjadi pemimpin.

Di media sosial pun masih sering ditemukan ketika perempuan dihakimi bila memakai baju terbuka atau ketika tidak memakai baju tertutup seperti yang diharapkan warganet.

Belakangan ini, figur-figur terkenal di dunia mulai mengadakan kampanye agar para perempuan lebih percaya diri dalam berkarir, salah satunya Lean In yang dipimpin oleh Sheryl Sandberg, petinggi Facebook.

Ada juga kampanye #MeToo yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pelecehan seksual yang dihadapi perempuan di dunia kerja.

Namun ternyata, seksisme juga bisa menimpa para laki-laki. Akarnya pun sama, yakni bila mereka dianggap tidak melakukan peran sesuai ekspektasi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *