Buta Huruf Sejak Kecil, Wanita di China Ikut Kelas Anak TK

Tak ada kata terlambat untuk belajar. Kalimat itulah yang dapat menggambarkan kondisi ibu dua orang anak di China.

Karena tak mendapatkan pendidikan sewaktu kecil, wanita berusia 31 tahun ini memutuskan untuk ikut kelas membaca di taman kanak-kanak.

Dikutip dari laman South China Morning Post, Jumat (9/3/2018), Shi Xiaoqin yang tinggal di provinsi Guizhou, China Selatan tampak duduk di bangku paling belakang sambil memperhatikan guru mengajar.

Meski harus duduk satu kelas bersama anak perempuannya yang masih berusia lima tahun, Xiaoqin tak pernah merasa malu dengan omongan orang lain.

Yang ia butuhkan hanyalah ilmu pengetahuan agar apa yang dinginkan dapat terwujud.

“Saya tak peduli apa kata orang tentang diri saya. Mendampingi anak perempuan saya di kelas adalah sebuah cara yang baik. Sehingga saya bisa mengerti pelajarannya dan dapat mengajari anak perempuan saya,” jelas Xiaoqin.

“Begitu saya tahu bagaimana membaca dan menulis, saya bisa membantu anak perempuan saya belajar di rumah, dan saat dia dewasa, dia akan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang baik,” tambahnya.

Xiaoqin yang tinggal di wilayah Songtao Miao, China mengatakan bahwa ada berbagai alasan mengapa ia tidak pergi ke sekolah sewaktu kecil.

Tak ada keraguan bagi Xiaoqin untuk kembali belajar. Meski hidup susah, ia ingin sekali bisa membaca. Guru di kelas tersebut mengatakan bahwa Xiaoqin mengalami banyak sekali kemajuan.

Beda dengan murid di kelas lainnya, Xiaoqin tak bisa bermain-main. Selepas pulang sokolah ia harus balik ke rumah karena ada beberapa tanggung jawab yang harus ia selesaikan, seperti menyapu, memasak dan membereskan rumah.

Bakar Seluruh Ponsel Murid

Belum lama ini, sebuah sekolah di Bangladesh menyita ponsel milik murid dan membakarnya. Pihak sekolah mengaku, alasan pembakaran gawai tersebut karena mengganggu proses belajar para siswa.

Murid-murid di sekolah menengah di Bangladesh bagian tenggara itu, akhirnya menyerahkan ponsel mereka pada Minggu, 4 Maret 2018, ke pengurus sekolah. Lalu perangkat tersebutdilemparkan ke sebuah api unggun di tengah lapangan olaharaga.

“Ponsel merusak karakter mereka. Para siswa menggunakan internet (melalui ponsel mereka) sepanjang malam. Kemudian tertidur di kelas keesokan harinya. Orang tua mereka prihatin,” kata Juru Bicara Madrasah Darul Ulum Moinul Islam atau Sekolah Menengah Islam, Azizul Hoque, seperti dilansir dari laman AFP.

Hoque mengatakan sekolah menengah tersebut, yang sudah berdiri sejak 123 tahun, dengan 14.000 siswa yang terdaftar, tidak menentang adanya teknologi. Tapi menurut mereka, pengaruh negatif dari ponsel jauh lebih besar daripada yang positif.

“Kami dibanjiri dengan surat-surat yang mencari fatwa terhadap penggunaan ponsel, karena banyak yang mengeluh bahwa gawai itu sering digunakan untuk urusan terkait birahi,” kata Hoque.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *