Tanpa Bonus, Kenapa Atlet Inggris Amat Lapar Emas di Olimpiade Rio?

Rio de Janeiro – Britania Raya menutup Olimpiade 2016 Rio de Janeiro sebagai runner-up. Bukan karena bonus besar, para atlet Inggris lapar emas setelah UK Sport menjamin hidup para atlet lewat dana yang didapatkan dari lotre. Juara umum olimpiade belum beralih tangan. Amerika Serikat tetap menunjukkan kedigdayaannya dengan raihan 46 medali emas, 37 perak, dan 38 perunggu. Gelar juara umum itu menjadi milik AS untuk kelima kalinya dalam enam olimpiade terakhir. Negeri Paman Sam itu cuma kehilangan gelar juara umum di Beijing 2008. Britania Raya berada di posisi kedua dengan mengoleksi 27 emas, 23 perak, dan 17 perunggu dengan total 66 medali. Koleksi medali itu menunjukkan Britania Raya tetap mampu tampil konsisten meski tak berstatus tuan rumah. Kala tampil di London, Britania Raya mengoleksi 29 emas dan total 65 medali. Koleksi emas itu cukup untuk menggeser China dari urutan kedua. China harus puas berada di peringkat ketiga dengan raihan 26 emas, 18 perak, dan 26 perunggu. Torehan yang dibuat China itu menurun dibandingkan ketimbang dua olimpiade sebelumnya. Di tanah sendiri mereka keluar sebagai juara umum dengan koleksi 51 emas jadi juara umum sedangkan empat tahun kemudian mendapatkan 38 emas. Padahal, Britania Raya tak memberikan atlet peraih medali dengan bonus. Tapi mereka mengambil cara berbeda untuk mendongkrak prestasi atlet. “Bisa memenangkan medali lebih dari yang kami dapatkan di London dan bisa melewati China adalah raihan yang sip buat kami. Kami adalah negara super di olahraga sekarang ini,” kata Chief Executive UK Sport, Liz Nicholl, seperti dikutip AFP. Rupanya pemerintah Inggris membuat terobosan untuk mendanai sukses merekadi bidang olahraga. Mereka membuat sistem lotre nasional yang dicanangkan pada tahun 1994 oleh Perdana Menteri Sir John Major yang memang sangat menyukai olahraga. “Sejak lotre nasional diberlakukan sampai hari ini kami telah memenangkan 699 medali,” tutur Nicholl. Jika disimak, Inggris bukanlah negara kuat di olimpiade. Pada Olimpiade 1996 Atlanta Inggris ada di peringkat ke-36 dengan cuma meraih satu emas. Mereka melihat hasil itu bukan sebagai sebuah kesialan belaka. Tapi memang ada yang salah dengan persiapan menuju olimpiade. Nah, agar tak menjadi seekor keledai yang membuat kesalahan serupa, sebuah terobosan dibuat untuk mendapatkan dana sebanyak-banyaknya untuk membiayai olahraga. Ya, lonjakan raihan medali itu mau diakui atau tidak memang terpengaruh besaran dana yang digelontorkan untuk mengembangkan prestasi olahraga. Di tahun 1996 itu UK Sport hanya mengalokasikan dana senilai 5 juta poundsterling per tahun untuk olimpiade. Empat tahun kemudian menuju Sydney persiapan Britania Raya 54 juta poundsterling per tahun hanya untuk cabang olahraga elite. Hasinya mereka berhasil meraup 28 emas dan berada di urutan kesepuluh. Empat tahun kemudian untuk menjadi tuan rumah, Britania Raya siap dengan pendanaan yang berkali lipat besarnya, mencapai 264 juta poundsterling, dan berhasil menempati urutan ketiga. Menurut laporan Guardian pembagian dana kepada cabang olahraga itu berdasarkan prestasi yang diraih pada olimpiade dan kejuaraan internasional yang menjadi milestone masing-masing cabang olahraga. Dana itu untuk pengadaan alat, pelatih yang sip, dan sport science, serta mengikuti kejuaraan. Sebagai gambaran balap sepeda dan rowing yang konsisten menyumbangkan medali mendapatkan anggaran lebih tinggi ketimbang cabang olahraga lain. Anggaran untuk basket, loncat indah, polo air, dan angkat besi didrop setelah mereka tak berkontribusi pada Olimpiade 2012 London. Sementara dana untuk renang dan bulutangkis dipangkas karena target tak tercapai. Dana tak cuma untuk organisasi pemegang kebijakan olahraga atau organisasi cabang olahraga tapi juga kepada atlet. UK Sport mengenal level atlet yang nantinya berpengaruh terhadap gaji tahunan mereka. Langkah itu dibuat agar para atlet tak perlu pusing untuk mencari penghasilan dari idang lain dan benar-benar berfokus meraih prestasi. Para peraih medali di olimpiade, kejuaraan dunia, dan peraih emas paralympic menerima 28 ribu poundsterling per tahunnya. Atlet yang bisa menembus delapan besar olimpiade mendapatkan dana 21,5 juta per tahun untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Sementara para atlet potensial untuk olimpiade berikutnya menerima 15 ribu poundsterling per tahun. “Kami mempunyai beberapa analis yang me- review perkembangan atlet tiap dua bulan. Masing-masing atlet mempunyai lebih dari 80 lembar dokumen,” kata Simon Timson, direktur performa UK Sport. Maka tak mengherankan banyak atlet Britania Raya yang mengucapkan terima kasih kepada sistem lotre nasional itu setelah naik podium. (fem/krs)

Sumber: Sport Detik