Indonesia – ICRC Menggelar Bantuan Kemanusiaan untuk Suriah dan Rohing

Komite Palang Merah Internasional atau ICRC, berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, dan ratusan lembaga akademik serta organisasi swadaya dalam dan luar negeri menggelar forum yang mendiskusikan isu seputar bantuan kemanusiaan dari konflik yang terjadi di Suriah, Rohingya dan di kawasan Asia.

Forum bertajuk ‘Regional Conference on Humanitarian Access and Negotiations in Asia’ itu menitikberatkan relevansinya pada krisis Rohingya, Suriah, dan berbagai isu kemanusiaan lain yang tengah memanas di Asia saat ini.

Christoph Sutter, Head of ICRC Regional Delegation to Indonesia and Timor-Leste menjelaskan, selain penting dan relevan, forum tersebut dinilai cukup bersejarah.

“Karena ini pertama kali bagi ICRC menggelar forum tersebut di Asia,” kata Sutter di sela-sela forum yang digelar di Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Pemilihan Indonesia sebagai lokasi penyelenggaraan juga dianggap penting kata Sutter.

“Kita menggelarnya di sini karena Indonesia telah menjadi aktor yang mendukung proses kemanusiaan di Asia beberapa waktu terakhir ini, terkhusus seputar Myanmar, Rakhine, Bangladesh,” ujarnya.

“Indonesia juga punya banyak praktisi kemanusiaan yang berpengalaman dan aktif menjangkau isu di Asia. Sehingga ICRC serta pihak lain bisa belajar dari Indonesia dan organisasi lain,” tambah pejabat ICRC terkait situasi di Suriah, krisis Rohingya dan kawasan Asia lainnya.

‘Regional Conference on Humanitarian Access and Negotiations in Asia’ digelar selama dua hari pada 8 – 9 Maret 2018, di Hotel Borobudur di Jakarta.

Komite Palang Merah Internasional atau ICRC, Centre of Competence on Humanitarian Negotiation (CCHN), Humanitarian Forum Indonesia, dan Universitas Paramadina merupakan ko-organisir acara tersebut — yang melibatkan 100 peserta dan perwakilan 18 negara. Semua untuk membantu Rohingya, Suriah dan kawasan yang bergejolak lainnya di Asia.

Menlu Retno Sampaikan Pidato Kunci

Pada perhelatan itu, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mewakili pemerintah menyampaikan pidato kunci pembuka.

Dalam pidatonya, Retno menyampaikan berbagai pengalaman dan sepak terjang Indonesia dalam melakukan diplomasi bantuan kemanusiaan, terkhusus seputar etnis Rohingya.

Pengalaman itu Retno utarakan sebagai bentuk anjuran bagi forum yang akan berlangsung dua hari nanti.

“Ada lima poin penting yang harus dilakukan oleh para praktisi dalam aktivitas bantuan kemanusiaan,” kata Retno.

Praktisi kemanusiaan harus bekerja aktif dan efektif, fleksibel tanpa meminggirkan prinsip utama kemanusiaan, menghargai prinsip imparsialitas, netralitas, dan independensi, menghargai kedaulatan pemerintah tujuan, dan berorientasi pada kepentingan manusia yang terdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *