Undang-Undang AS Perangi Teroris Perlemah Kontra-teror Internasional

Live Draw Sgp Jakarta – Pemerintah Marokko, mengatakan Undang-Undang Penegakkan Hukum Terhadap Pendukung Teroris (Justice Against Sponsors of Terrorisme Act/JASTA) yang disahkan Kongres Amerika Serikat (AS) pekan lalu, akan membuat lemah upaya kontra-teror internasional. Pada Jumat (9/9), Kongres AS menyetujui JASTA, yang akan menghilangkan kekebalan luar negeri terhadap negara yang didapati “terlibat dalam serangan teror di tanah AS”. RUU tersebut memungkinkan keluarga korban serangan teroris menuntut pemerintah negara asal pelaku. Dengan disetujuinya UU JASTA, keluarga korban serangan teroris di Menara Kembar New York yang dikenal sebagai insiden 11 September, dapat menuntut Pemerintah Arab Saudi. Pasalnya, sebagian besar pembajak yang menabrakkan pesawat ke menara kembar itu, merupakan warga negara Arab Saudi. “Para pelaku aksi teror mesti dimintai pertanggung-jawaban atas tindakan mereka di pengadilan. Tapi dengan RUU ini, kesalahan pelaku teror yang bertindak sendirian dibebankan pada negara asalnya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Marokko, seperti dikutip Xinhua, Rabu (14/9). Disebutkan, 15 dari 19 pembajak yang terlibat dalam serangan 11 September 2001, yang menewaskan 2.996 orang dan melukai lebih dari 6.000 di New York, memang warga negara Arab Saudi. Serangan itu juga mengakibatkan kerugian harta dan prasarana sebesar 10 miliar dolar AS dan kerugian secara keseluruhan berjumlah tiga triliun dolar AS. Tapi pascaserangan itu, negara-negara Arab, tertuma di Wilayah Teluk, telah memperlihatkan komitmen kuat dalam memberi dukungan moral, militer dan keuangan bagi upaya internasional dalam perang melawan teror. “Kerajaan Marokko, yang mengutuk terorisme dalam segala bentuknya dan tak peduli apa pun alasannya, sejak dulu selalu berkomitmen pada perang masyarakat internasional melawan momok ini,” kata Kementerian Luar Negeri Marokko. Serangan 11 September adalah empat serangan terkoordinasi oleh kelompok teroris Al-Qaida yang menyebabkan AS menanggapi serangan itu dengan “melancarkan Perang Melawan Teror” dan menyerbu Afghanistan untuk meredam Taliban yang telah menampung Al-Qaida. Walaupun pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden mula-mula membantan keterlibatan kelompoknya, pada 2004, ia mengaku bertanggung-jawab atas serangan tersebut. Al-Qaida dan Osama menyatakan dukungan AS buat Israel, kehadiran tentara AS di Arab Saudi, dan sanksi terhadap Irak sebagai alasan serangan itu. Jeanny Aipassa/JAI

Sumber: BeritaSatu