Mengapa Orang Gampang Melakukan Bullying? Ini Alasan Ilmiahnya

Menurut penelitian terbaru, satu di antara dua orang pasti pernah mengalami bullying sebelum usia mereka menginjak 20 tahun. Percayalah, sulit melewati masamasa bullying, terutama jika Anda tidak memahami psikologi dibalik fenomena bullying.

Dilansir dari ditchthelabel.org, Senin (17/7/2017), seseorang mulai menggertak orang lainnya untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol atas orang tersebut. Cara termudah untuk melakukan hal ini adalah dengan mencari sesuatu yang unik tentang orang tersebut untuk menyakitinya secara fisik maupun emosional.

Bagi orang yang menjadi korban bullying ini akan mulai menjadi kritis, ada keinginan kuat untuk memahami mengapa dirinya menjadi sasaran, dan menyalahkan diri sendiri. Sebagai hasilnya, orang tersebut akan mengubah keunikan yang dimilikinya untuk menghindari bullyan.

Mereka akan melakukan apa saja untuk menutupi sesuatu yang dianggap memalukan. Hal ini akan mempengaruhi perilaku dan caranya melihat diri sendiri, yang akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

Namun, ternyata fenomena bullying ini bukan hanya karena perbedaan yang dimiliki seseorang. Penelitian yang dilakukan kepada 8.850 orang menganalisis tentang pengalaman bullying mereka.

Sekitar 14% atau 1.239 orang mengaku pernah mengalami bullying. Selanjutnya, para peneliti memberikan pertanyaan intim tentang kehidupan mereka, seperti rasa stres atau trauma, kehidupan rumah tangga, hubungan asmara, dan perasaan mereka tentang diri sendiri.

Pertanyaan tersebut diberikan kepada semua peserta untuk membandingkannya dengan peserta lainnya yang tidak pernah mengalami bullying. Hasilnya sangat mengejutkan karena berbeda dengan kepercayaan yang diyakini banyak orang.

Data menunjukkan bahwa orang yang melakukan bullying cenderung mengalami stres atau trauma dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Mereka melampiaskan rasa stres dengan cara yang berbeda.

Penelitian juga menunjukkan bahwa para korban tidak tahu bagaimana menanggapi rasa stres secara positif. Sedangkan 66% orang yang mengaku pernah mengintimidasi orang lain adalah pria. Mengapa?

Di dalam budaya masyarakat yang mendunia, Anda mungkin terbiasa mendengar jika anak lakilaki tidak boleh cengeng, seperti perempuan. Anak lakilaki tidak boleh lemah, seperti perempuan.

Ini merupakan perilaku yang dipelajari dari ajaran masyarakat itu sendiri menggunakan normanorma gender yang disfungsional. Bagi beberapa orang yang mengalami bullying bahkan percaya bahwa mereka juga harus melakukan hal yang sama terhadap orang lain, agar merasa kebal.

Selain itu, satu dari tiga orang yang melakukan bullying ternyata berasal dari kehidupan rumah tangga yang buruk. Mereka mengalami penolakan dari orangorang yang seharusnya mencintai diri mereka tanpa syarat, bahkan mungkin mengalami kekerasan.

Data lain mengungkapkan banyak orang melakukan bullying karena merasa tidak aman dan nyaman dengan hubungan yang sedang dijalani. Jadi, lain kali ketika mengalami masalah bully atau bullying, Anda bisa memahami alasannya dengan benar.