Mengintip Kemegahan Pabrik Gula Terbesar di Asia Colomadu

Beberapa hari lalu Pura Mangkunegaran berniat melayangkan gugatan kepemilikan tanah atas Pabrik Gula (PG) Colomadu yang kemudian disulap menjadi De Tjolomadoe. Meski demikian, tempat wisata baru yang menawarkan pesona eks pabrik gula kuno itu tetap dibuka untuk umum.

Sejumlah pekerja masih tampak merampungkan proses revitaliasi bekas pabrik gula Colomadu yang kini diberi nama De Tjolomadoe. Mereka tampak memoles bagian lantai serta halaman depan. Selain itu, petugas juga tampak menyelesaikan pemasangan lampu.

Sedangkan, di bagian dalam bekas pabrik gula, kini sudah disulap menjadi bersih dan kinclong. Bahkan, hawa adem begitu terasa saat memasuki pintu utama yang langsung menuju ke stasiun gilingan.

Berubah Fungsi

Mesin giling yang berukuran besar masih tampak gagah terpasang. Hanya saja untuk mempercantik kondisi roda giling yang bergigi itu, kini dicat kembali. Sedangkan, di bagian pinggirnya dipasang kaca pembatas.

Sedangkan, di belakang stasiun gilingan terdapat stasiun penguapan. Di stasiun tersebut terdapat ketel dengan ukuran besar yang masih terpasang di bagian atas. Sekarang, kawasan itu dipercantik dengan keberadaan coffee shop, stan kerajinan batik, serta stan busana muslim.

Selain dua stasiun itu, di bangunan pabrik itu juga terdapat stasiun karbonatasi, stasiun penguapaan, stasiun sarkara, dan stasiun masakan. Saat ini, dua stasiun terakhir itu telah disulap menjadi concert halldan ruang multifungsi lengkap dengan restoran dan cafe.

Wisata Keliling Pabrik

Ratusan siswa sekolah dasar tampak semringah dan riang mengikuti tour De Tjolomadoe alias keliling eks pabrik gula. Mereka tampak antusias mendengarkan cerita dari petugas mengenai sejarah serta cara kerja masing-masing stasiun dalam mengolah tanaman tebu menjadi gula.

Setelah itu, ratusan siswa itu pun memiliki tugas untuk menggambar pabrik tersebut. Tak pelak, mereka pun terlihat serius corat-coret menggambar pabrik yang didirikan Sri Paduka Mangkunegara IV pada tahun 1861.

Tak hanya kegiatan menggambar, berbagai even dilakukan untuk memeriahkan pembukaan De Tjolomadoe. Kegiatan itu di antaranya bazar, pentas hiburan serta talkshow dunia digital bertema unggah unduh yang menghadirkan narasumber para praktisi di bidang digital, antara lain, Youtuber, Rio Ardhillah dan Gerald Sebastian.

De Tjolomadoe Terbuka Untuk Umum

Berbagai kegiatan tersebut berhasil memancing masyarakat umum untuk berkunjung ke De Tjolomadoe. Buktinya, banyak pengunjung yang memang meluangkan waktunya untuk melihat dari dekat kondisi eks pabrik tebu terbesar se-Asia itu.

Para pengunjung tampak menikmati suasana di dalam pabrik. Mereka bahkan selalu mengabadikan momen langka itu dengan berfoto melalui kamera digital maupun kamera smartphone. Banyak sudut atau objek yang sangat instagramable untuk latar foto.

Direktur Sinergi Colomadu, Wahyono Hidayat mengatakan objek wisata baru De Tjolomadoe sudah dibuka untuk masyarakat umum. Siapa pun diperbolehkan untuk berkunjung melihat eks PG Colomadu yang telah direvitalisasi sejak April 2017 lalu.

“Untuk saat ini masih gratis untuk masuk ke De Tjolomadoe. Sampai batas kapan gratisnya, belum ada keputusan,” kata dia saat ditemui De Tjolomadoe, Rabu, 28 Maret 2018.

Nama Stasiun Seperti Zaman Dulu

Menurutnya, para pengunjung yang masuk ke dalam eks pabrik gula itu bisa melihat kondisi pabrik gula zaman dulu. Semua nama stasiun di pabrik tersebut dikembalikan seperti nama pada zaman dulunya.

“Ada stasiun gilingan di depan, terus ada stasiun penguapan, stasiun ketelan, stasiun karbonatasi, Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall,” ucapnya.

Dia menambahkan, nantinya eks pabrik gula tersebut akan menjadi objek wisata baru yang berkonsep edukasi. Selain itu, di dalam bangunan pabrik itu juga akan menjadi destinasi wisata kuliner.

“Di stasiun ketelan itu untuk makan. Terus ada besali cafe. Itu dulunya merupakan bengkel untuk seluruh pabrik,” kata dia.

Berburu Foto PG Colomadu hingga Leiden

Sesuai dengan rencana awal, Wahyono mengungkapkan nantinya akan dipajang foto-foto mulai dari pembangunan pabrik itu pertama kali berdiri pada zaman Mangkunegara IV hingga proses prarekontruksi bekas pabrik gula pada tahun lalu.

“Kami sampai cari hingga Leiden, Belanda terkait foto-foto lama pabrik itu.Terus film sudah disiapkan dan disusun, nanti tinggal masalah medianya saja. Jadi pengunjung nantinya bisa melihat sejarah pabrik ini,” ujar dia.

Sebagai bangunan kuno yang telah direvitaliasi, ia mengatakan bahwa beberapa bangunan tetap dipertahankan sesuai dengan bentuk lamanya. Hal ini mengacu kepada rekomendasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

“Nanti akan terlihat dalam foto yang dipamerkan. Awalnya seperti apa, terus sekarang seperti apa. Jadi seperti before-after,” kata dia.

Spot Foto Instagramable

Menurut dia, kawasan De Tjolomadoe saat ini, baik di taman depan pabrik, maupun di dalam bangunan pabrik semuanya sangat unik dijadikan latar untuk berfoto.

“Semua lokasi sangat instagramable. Tapi paling menarik itu jika malam, banyak yang foto di bawah cerobong,” ucapnya.

Dia menjelaskan, De Tjolomadoe merupakan pabrik gula yang dibangun tahun 1861 oleh Mangkunegara IV. Selanjutnya, bangunan pabrik tersebut diperbesar pada tahun 1928 saat era pemerintahan Mangkunegara VII.

“Saat itu menjadi pabrik gula terbesar dan menjadi eksportir gula terbesar. Nah, setelah Colomadu terus muncul pabrik gula Tasikmadu,” kata dia.

Meskipun pernah mengalami masa kejayaan, pabrik gula Colomadu akhirnya mulai berhenti berproduksi pada tahun 1997. Selang satu tahun kemudian, pabrik tersebut dinyatakan ditutup.

“Setelah itu mulai dilakukan revitalisasi pada April 2017. Dan mulai dibuka untuk umum mulai saat ini,” kata dia.

Mangkunegaran Menggugat

Sementara itu, adanya proses revitalisasi pabrik gula Colomadu menjadi De Tjolomadoe memantik Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkungara IX. Pihak Pura Mangkunegara akan menggugat Kementerian BUMN dan PTPN IX atas pengambilalihan dan revitalisasi bekas pabrik yang didirikan Mangkunegara IV.

Juru bicara Tim Pengembalian Aset Mangkunegaran (PAM) Didik Wahyudiono mengatakan, selama ini Kementerian BUMN tidak pernah meminta izin dari pihak Mangkunegaran selaku pemilik awal bangunan dan lahan proyek revitalisasi eks pabrik gula tersebut.

“Pihak Mangkunegaran merasa tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan soal revitalisasi itu. Kami sangat keberatan dengan sikap itu,” kata dia di Solo, Minggu, 25 Maret 2018.

Oleh sebab itu, lanjut dia, pihaknya akan mengajukan gugatan pembatalan status tanah karena belum ada pelepasan tanah atau palilah dari Mangkunegara IX. Sesuai PP 3 dan 4 tahun 1946, penguasaan PG Colomadu hanya pada usaha, bukan pada lahan dan bangunan.

“Tidak ada pelepasan (tanah dan bangunan) tapi tiba-tiba sertifikat itu sudah beralih ke PTPN IX pada tahun 2014,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *