Misteri Jalan Pawiyatan Luhur Semarang yang Selalu Ambles

Jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur, Gajahmungkur, Semarang, Jawa Tengah, selalu ambles sepanjang tahun. Tak peduli siapa yang menjabat sebagai wali kota, jalan amblesini seperti menggoda kreativitas untuk menyiasati.

Persis di depan Kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), dalam tahun 2017 sudah ambles hingga lima kali. Empat kali diperbaiki, selalu ambles. Dan kali ini adalah ambles yang kelima kalinya.

Menurut Dodik, warga setempat, setiap kali jalan ambles kedalamannya bervariasi. rata-rata antara 10 hingga 25 centimeter.

“Jalan ini sejak dulu sering ambles. Enggak tahu kalau zaman Belanda sudah ada belum. Tapi beberapa wali kota selalu memperbaiki dan selalu ambles lagi,” kata Dodik kepada , Rabu (7/3/2018).

Sebelumnya sepanjang 2017, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang sudah memperbaiki. Anehnya, pada ambles berikutnya kemiringan jalan semakin tajam. Kendaraan harus lewat bergantian.

Amblesnya jalan ini tentu mengganggu aktivitas. Bukan hanya secara ekonomi, namun juga kelancaran studi karena di jalan tersebut sangat banyak perguruan tinggi swasta.

“Menurut saya, perbaikan jalan ambles ini harus mengatasi masalah secara permanen. Bukan sekadar diuruk dan diaspal kembali,” ujar Dodik.

Kajian Teknis

Kepala DPU Kota Semarang, Iswar Aminuddin menyebutkan penyebab Jalan Pawiyatan Luhur selalu ambles adalah adanya patahan di dalam tanah. Terletak di kedalaman 60 meter, sehingga tak terlalu dalam.

“Mungkin akan dilakukan rekayasa konstruksi untuk menstabilkan tanah,” kata Iswar.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau akrab disapa Hendi, sebenarnya langsung memerintahkan perbaikan. Perbaikan yang dilakukan memang bersifat sementara sambil menunggu solusi yang bersifat permanen.

“Saat ini diupayakan perbaikan. Saya tadi melihat, tanah sudah dikepras. Nanti setelah rata tinggal di-hotmix (diaspal), sudah bisa digunakan lagi,” ucap Hendi, Selasa (6/3/2018).

Hendi mengakui bahwa jalan ini misterius. Berbeda dengan jalanan lain. tentu saja ada hubungannya dengan letaknya yang berada di daerah patahan.

“Beberapa metode rekayasa konstruksi sudah dilakukan dan tetap saja masih ada patahan-patahan jalan,” kata Hendi.

Secara ilmiah, Hendi kemudian meminta dicarikan solusi yang permanen. Saat ini riset masih berjalan. Bahkan, pembangunan jalan baru sebagai alternatif solusi juga sudah dipikirkan.

“Namun jika menunggu itu selesai, akan lama sekali. Maka tempat ini kita perbaiki dulu sambil kemudian memikirkan jalur alternatif maupun rekayasa konstruksi yang lain yang memungkinkan orang  bisa lewat sini dengan nyaman,” tutur Hendi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *