Panduan Mudah Beralih dari Aplikasi Uber ke Grab

Setelah melepas bisnisnya di Asia Tenggara kepada Grab, Uber akan melakukan transisi layanan. Setelah transisi berlangsung, semua permintaan atas layanan perjalanan akan dilakukan melalui aplikasi Grab.

Uber akan melakukan transisi layanannya ke aplikasi Grab secara utuh pada Minggu (8/4/2018). Kendati demikian, konsumen tetap dapat menggunakan aplikasi Uber di lebih dari 80 negara lain di seluruh dunia.

Sebagai catatan, konsumen di Asia Tenggara masih tetap bisa menggunakan layanan Uber dengan normal sampai 8 April 2018.

“Uber dan Grab akan menyatukan kegiatan operasi kami untuk memberikan Anda tahapan selanjutnya dari pelayanan bersama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kami akan melakukan transisi pelayanan secara resmi dalam aplikasi Grab pada 8 April 2018,” tulis Uber dalam keterangan resminya, Selasa (27/3/2018).

Untuk konsumen Uber di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, disarankan untuk segera beralih menggunakan aplikasi Grab agar tetap bisa menikmati layanan ride-sharing. Berikut tahapannya:

1. Mengunduh aplikasi Grab yang ada di toko aplikasi

2. Membuat akun

3. Bagi penumpang baru Grab, masukkan kode promo GRAB4W dan nikmati perjalanan Grab pertama kalian.

Uber Hengkang dari Asia Tenggara

Uber keluar dari pasar ride-sharing Asia Tenggara dengan menjual bisnisnya ke perusahaan asal Singapura, Grab. Harga penjualan masih dirahasiakan, tetapi Uber akan mendapatkan 27,5 persen saham di Grab sebagai bagian dari kesepakatan akuisisi tersebut.

CEO Uber, Dara Khosrowshahi, melalui email kepada para karyawannya, menggambarkan akuisisi tersebut senilai “beberapa miliar dolar”. Ia juga akan berada di jajaran dewan direksi Grab. Selain itu, 500 karyawan Uber di Asia Tenggara akan dialihkan ke Grab.

Sebagai bagian dari akuisisi, Grab juga akan mendapatkan bisnis pengiriman makanan milik Uber, UberEats, di Asia Tenggara.

“Saya tahu ada banyak kerja keras sebelum saya datang dan saya tahu operasional yang telah kalian bangun di delapan negara itu. Setelah berinvestasi sebesar US$ 700 miliar di wilayah tersebut, kita akan memegang saham senilai beberapa miliar dolar dan kepemilikan strategis yang kita yakini akan menjadi pemenang di kawasan global yang penting,” tulis Khosrowshahi, seperti dikutip dari Recode.

Uber Terus Lepas Bisnis

Ini merupakan kali ketiga Uber meninggalkan pasar besar untuk kesepakatan serupa. Pada Agustus 2016, raksasa ride-sharing asal Tiongkok, Didi, mengakuisisi bisnis Uber di negara tersebut. Pada Juli 2017, Uber juga menarik operasionalnya dari Rusia karena bergabung dengan kompetitornya, Yandex.Taxi.

Khosrowshahi menjelaskan, transaksi ini akan membantu perusahaan fokus pada pasar-pasar inti, seperti India, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Ketimbang bersaing di terlalu banyak pasar, Uber memilih fokus pada pasar-pasar intinya tersebut.

“Wajar jika muncul pertanyaan apakah konsolidasi adalah strategi, mengingat ini adalah kesepakatan ketiga semacam ini, mulai dari Tiongkok ke Rusia, kini Asia Tenggara. Jawabannya adalah Tidak. Transaksi ini membuat kita dalam posisi untuk bersaing dengan fokus dan bobot nyata di pasar inti, tempat kita beroperasi, sambil mendapatkan saham berharga dan berkembang di sejumlah pasar besar dan penting, di mana kita tidak memilikinya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *